Surabaya

Soerabaia, itu ejaan jadul (jaman dulu) buat kota tercinta Surabaya. Sudah hampir 1 Tahun 4 Bulan aku meninggalkan kota ini, kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. 1 tahun aku meninggalkan Surabaya untuk keperluan masa pendidikan 1 tahun di MT Trakindo dan sudah 4 bulan ini aku berada di Kota Balikpapan dimana aku di tempatkan setelah masa pendidikan 1 tahun tersebut.

Tugu PahlawanSelama aku besar di Surabaya banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan, di kota inilah keluargaku tinggal dan disini pulalah aku menempuh pendidikan dari aku Taman Kanak sampai Perguruan Tinggi. Satu hal yang tidak bisa aku lupakan adalah makanan, sebab di kota ini aku bisa makan apa saja dengan harga murah. Kenapa murah? tentu aku tidak asal bicara kalau kota ini memang menawarkan makanan yang nikmat dan murah. Aku sudah pernah mampir ke Semarang, Yogya, Malang, Jakarta, Banjarmasin, Tarakan, Bogor dan yang terakhir Balikpapan dan pernah merasakan dan mencicipi makanan disana, memang tidak semua aku cicipi tetapi dari situ aku bisa ambil gambaran bahwa di Surabaya-lah surga bagi orang yang suka makan seperti aku.

Bila kita pernah mendengar ada nasi kucing yaitu makanan yang dibungkus dengan pembungkus dari Koran ataupun Kertas pembungkus makanan dengan porsi kecil, maka yang pasti teringat di benak kita adalah Jogjakarta atau Semarang. Nasi kucing ini terkenang sekali dengan harga yang murah, bagi saya itu tidak mengherankan sebab dengan porsi yang kecil (5 sendok makan) harga tersebut memang sesuai. Bila kita makan nasi kucing hanya 1 bungkus pasti perut kita akan berontak untuk minta minimal 1 bungkus lagi agar kenyang. Sekarang kita pake ilmu matematika kita yang sederhana saja
( 2 Bungkus x Rp 1500 ) + (1 teh hangat x Rp. 1000) akan dihasilkan Rp. 4000 untuk 1 kali makan.

Dengan cara dan metode yang sama saya bandingkan dengan nasi bungkus di kota Surabaya, karena porsi nasi bungkus di kota ini cukup banyak dengan harga Rp. 3000 dan ditemani dengan segelas teh hangat juga seharga Rp. 1000 makan didapatkan Rp. 4000 untuk sekali makan di Surabaya.

Dari perbandingan diatas tentu anak kecil juga akan mengerti dengan pertanyaan mana yang lebih murah? tentu jawabannya adalah tidak ada yang murah karena sama jumlahnya. Bila kita pandang dari sisi harga memang sama tetapi dari jumlah makanan (berapa sendok) dan sampah yang dihasilkan, aku bisa putuskan bahwa makanan di Surabaya tetap yang termurah

Sudah dulu pembahasan mengenai makanan murah di Surabaya, lain waktu akan aku bahas lagi mengenai makanan Surabaya kesukaanku dan dimana bisa mendapatkan serta tidak lupa key word utamanya adalah MURAH

foto : http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya