Archive for the ‘Planet Qwords.com’ Category

PUISI : JALAN PULANG MENUJUMU

Saturday, July 31st, 2010

Kelam yang dibekap gerimis senja tadi
kini membayang jelas di bening matamu
menorehkan luka, sepi, hampa, resah,
dan rindu yang retak
juga mimpi yang terbelah

Pada genangan sisa hujan di jalan
ada kenangan memantul cemerlang
juga seiris kehidupan tentang kita
yang kupandang dengan hati remuk

Boleh jadi, katamu,
esok yang kau kekalkan tak mungkin ada
tapi cinta telah menundukkan waktu
dan membekukan setiap baris penanggalan
melerai muram yang kau dekap sepanjang musim
dan meyakinkanmu
bahwa aku pasti akan bisa
menemukan jejak pulang menujumu tanpa tersesat
walau akhirnya,
kau menenggelamkanku tanpa ampun
pada sendu bola matamu

Drupal: Howto send attachment

Saturday, July 31st, 2010
Sending attachment in Drupal is easy. Phpmailer is perfect to send attachments if I’m not using Drupal as the framework to build web applications. For Drupal, you can use mimemail module. Download it, extract into your sites/all/modules/ folder then activate it via Administer > Site Building > Modules. Now the sending email part. You can [...]

My Last Day of Being Twenty

Saturday, July 31st, 2010

Tomorrow I’ll turn 21, and the plans are:

  1. To stop multitasking too much
  2. To get some steps closer to be a…. geologist (for sure, what else?)
  3. To want what I get
  4. To stop dreaming about Oslo or Snæfellsjökull for a while

——————–

“Whatever with the past has gone, the best is always yet to come.” — Lucy Larcom

[Magnum Opus] Completely Harmless

Saturday, July 31st, 2010

Admittedly, gw bukan tipe anak yang berprestasi, academically or otherwise. What I have done in my college time, however, was anything but academic. I’ve done some very random shits like bikin komik, siaran radio, cosplay.

This is another one I’m proud of. Bunch of underachievers think we could underachieve more by making a film about underachievers. Masuk 10 besar di Ganesha Film Festival yang dibikin LFM di tahun 2010. Ladies and Gentlemen, Completely Harmless.

Keong Racun Sinta dan Jojo

Friday, July 30th, 2010
Dasar kau keong racun Baru kenal eh ngajak tidur Ngomong nggak sopan santun Kau anggap aku ayam kampung Kau rayu diriku Kau goda diriku Kau colek diriku Eh, ku takut sekali Tanpa basa basi kau ngajak happy happy Eh, kau tak tahu malu Tanpa basa basi kau ngajak happy happy Mulut kumat kemot Matanya melotot [...] Related posts:
  1. Kau Begitu Sempurna
  2. Get an extra email address in Yahoo!

ICA YANG MALANG DAN HARAPAN YANG TENGGELAM DI KALIMALANG

Friday, July 30th, 2010

Hampir setiap hari saya melewati jembatan itu.

Sebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalan Raya pinggir Kalimalang menuju akses keluar tersingkat ke Jl.Raya Cikarang-Cibarusah melalui kawasan pabrik Gemalapik.  Tak ada pagar pengaman di pinggir jembatan sempit itu. Kadangkala, dari atas tempat duduk penumpang ojek yang saya tumpangi, batin saya nyeri menyaksikan riak air dibawah jembatan yang mengalir deras. Sempat terfikir, bagaimana kiranya, bila ada seseorang yang tercebur dan jatuh kesana. Mungkin relatif sulit ditolong terlebih bila sang korban tak bisa berenang karena arus air yang mengalir deras.

Dan minggu lalu, Apa yang saya bayangkan itu benar-benar terjadi.

Hari Selasa pekan lalu (20/7)  jembatan kecil itu memakan korban, seorang anak perempuan bernama Annisa berusia 13 tahun, yang akrab dipanggil Ica. Dari informasi yang saya peroleh di mailing list Cikarang Baru, kejadiannya adalah waktu itu (sekitar pukul 10.00 pagi) Ica yang tengah mengendarai sepeda, tersenggol sebuah mobil dan mengakibatkan anak malang tersebut kehilangan keseimbangan, lalu tercebur dan jatuh ke dalam “pelukan” derasnya sungai Kalimalang. Ica tak bisa berenang dan akhirnya hanyut bersama arus sungai.

Mayat gadis kecil itu akhirnya ditemukan oleh tim SAR 5 km dari lokasi kejadian.

Terlepas penyebab kecelakaan akibat kecerobohan mobil yang menyenggol Ica tak mau mengalah, tidak adanya pagar besi pengaman di pinggir jembatan atau mungkin saja ketidakhati-hatian Ica mengendarai sepedanya sebenarnya ada kisah mengenaskan dibalik musibah ini.

Saat itu Ica yang baru saja lulus SD dan tak mampu melanjutkan sekolahnya karena kekurangan biaya, sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya di sebuah tempat penampungan limbah non B3 yang banyak berjejer sepanjang sungai Kalimalang, sebagai pemilah limbah. Sudah 3 hari Ica tidak pulang dan memilih menginap di tempat kerjanya karena mesti lembur menuntaskan pekerjaan dan dihari naas itu, dengan rasa rindu yang membuncah ingin berjumpa kembali dengan orangtua tercinta, Ica justru menemui ajal di sungai Kalimalang.

Saya teringat posting saya sebelumnya yang mengisahkan betapa memilukannya nasib pekerja anak di negeri kita. Mereka yang seharusnya menuntut ilmu di sekolah mesti berjibaku dengan kerasnya kehidupan, “berkelahi dengan waktu dan  dipaksa pecahkan karang dengan lemah jari terkepal”.  Betapa mengenaskan. Mereka yang seharusnya berada dibangku sekolah untuk menimba ilmu, dengan segala keterbatasan yang dimiliki mesti menghadapi kenyataan pahit harus mencari nafkah menyambung hidup.

Impian serta harapan Ica telah hanyut dan tenggelam bersama derasnya sungai Kalimalang.

Berdasarkan tayangan berita di Antara News, 11 Februari 2010, terungkap bahwa sesuai temuan Survei Pekerja Anak (SPA) dari Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Organisasi Perburuhaan Internasional (ILO) menemukan dari 58,8 juta anak Indonesia pada 2009, 1,7 juta jiwa diantaranya menjadi pekerja anak.

Dalam berita tersebut juga disebutkan:

“Jumlah anak yang bekerja atau working children itu sebesar 4,1 juta di mana yang merefer (mengacu) ke pekerja anak atau child labor sebesar 1,7 juta jiwa,” kata Koordinator Tim Badan Pusat Statistik SPA Uzair Suhaimi dalam seminar hasil SPA di Jakarta.

Definisi anak dalam survei ini adalah 5-17 tahun atau berbeda dengan definisi Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakrenas) yang hanya melihat anak 15-17 tahun. “Dan ini merupakan yang pertama,” katanya.

Pekerja anak adalah bagian dari anak yang bekerja (working children) yang tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan dan konvensi ILO.

Ada tiga kategori definisi pekerja anak. Pertama, sesuai perundangan, umur minimum bekerja 13 tahun, sehingga anak yang bekerja di bawah 13 tahun adalah pekerja anak.

Kedua, sesuai ketentuan anak umur 13-14 tahun diperbolehkan bekerja dengan jam kerja tiga jam sehari atau 15 jam seminggu. Mereka yang bekerja di atas itu adalah pekerja anak. Ketiga, mereka yang berusia lebih 15-17 tahun dengan jam kerja 40 jam seminggu.

Survei menemukan, setidaknya 674 ribu anak di bawah 13 tahun berstatus bekerja, sekitar 321 ribu anak umur 13-14 tahun bekerja lebih dari 15 jam per minggu, dan sekitar 760 ribu jiwa anak umur 15-17tahun bekerja di atas 40 jam per hari.

Dan Ica, menjadi satu diantara 321 ribu pekerja anak berumur 13-14 tahun yang bekerja lebih dari 15 jam per minggu.

Menarik sebuah ulasan berita yang saya kutip dari link ini yang menyatakan, untuk mengurangi tingginya pekerja anak di Indonesia, maka Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenaker-trans) meminta Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendik-nas) terus mendongkrak program pendidikan gratis semaksimal mungkin. Disebutkan pula:

Peningkatan program pendidikan gratis adalah salah satu upaya yang harus dilakukan guna mengurangi jumlah pekerja anak dibawah umur.”Kami menilai anak-anak tersebut terpaksa harus bekerja karena miskin dan tidak sekolah,” kata Menakertrans Muhaimin Iskandar di Lokakarya Nasional Meninjau Status Saat ini dan Perencanaan Penghapusan Pekerja Anak di Masa Depan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bekas Wakil Ketua DPR ini mengatakan, jika pendidikan gratis di Indonesia dapat dijalankan maksimal, maka anak-anak miskin yang masih di bawah umur bisa bersekolah meski harus tetap bekerja.”Anak-anak miskin bisa diberikan biaya personal dan operasional sekolah. Hal ini dapat dilakukan bersama-sama dengan pemerintah maupun non pemerintah,” ujarnya.

Sayang sekali, masih terdapat inkonsistensi menerapkan hal ini.  Coba anda simak berita yang saya kutip dari sini, yang menyatakan sekolah Gratis yang dicanangkan Pemkab Bekasi, ternyata tidak gratis:

Langkah pemerintah Kabupaten Bekasi membuka lima sekolah gratis tingkat SMA/ SMK. praktiknya tidak berjalan seperti diharapkan, tidak gratis. Karena, tiga diantaranya tercatat melakukan pungutan dengan berbagai dalih.

Lima sekolah gratis dimaksud SMA Negeri di Kecamatan Taruma Jaya. Muara Gembong, Kecamatan Bojongmangu, dan dua SMK di Kecamatan Cikarang Pusat dan Kecamatan Pabayuran.

Tiga dari lima sekolah dimaksud, tercatat melakukan pungutan pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMK Pabayuran. Sehingga para orang tua murid di sekolah tersebut, mertgeluhkan penyelenggara memungut iuran awal tahun hingga Rpl juta lebih.

Rinciannya biaya MOS Rp45.000, pakaian seragam Rp420.000, kesiswaan Rp40.000. buku LKS dan paket modul Rp200.000, dan bagi siswa baru diminta membayar uang bangku sebesar Rp420.000.

Keluhan juga terjadi di SMA Negeri 1 Muara Gembong, siswa baru tahun ajaran 2010-2011 dipungut iuran Rp450.000 per siswa dengan alasan untuk membuat pagar keliling halaman sekolah.

Ironis memang.

Dan Ica (serta bisa jadi masih banyak Ica-Ica yang lain) harus memendam segenap impiannya dalam-dalam untuk menuntut ilmu disekolah dengan bekerja.  Biaya mahal yang mesti dibayar untuk masuk sekolah membuat mereka mengurungkan niatnya untuk menggapai cita-cita meraih kehidupan yang lebih baik.

Pemerintah setempat dan tentu didukung oleh masyarakat mesti mengupayakan agar eksploitasi anak sebagai pekerja harus dihapuskan. Sejak 20 November 1989, PBB telah mensahkan Konvensi Tentang Hak Anak (Konvension on the Right of Child) yang memuat 4 dasar hal pokok yang diakui terhadap anak, yaitu hak terhadap kelangsungan hidup (survival right), hak terhadap perlindungan (protection right), hak tumbuh kembang (development right) dan hak partisipasi (participation right).

Tanggal 25 Agustus 1990, Indonesia termasuk menjadi negara-negara pertama di dunia yang meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dan disahkan melalui Keputusan Presiden No.36/1990 kemudian terdaftar di PBB 5 September 1990.Konsekuensinya adalah Indonesia terikat secara hukum Internasional untuk mengakui adanya hak-hak anak dan menjamin terlaksananya hak-hak anak dalam hukum positif di Indonesia (dikutip dari sini)

Tentunya ini mesti dimaknai secara serius oleh segenap penentu kebijakan di negeri ini, untuk secara konsisten memenuhi hak-hak anak, termasuk menyediakan pendidikan gratis untuk anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi. Masa depan negeri ini terletak ditangan anak-anak kita. Dan cermin masa depan negeri ini salah satu bisa terlihat adalah bagaimana kita menyediakan dan menyiapkan pendidikan yang terbaik buat mereka.

Semoga arwah Ica mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT. Semoga tak ada lagi Ica-Ica yang lain,  dan semoga kita, segenap komponen bangsa ini menyiapkan generasi-generasi penerus yang mumpuni, beradab, berakhlak dan berpendidikan baik.

Setiap kali saya menyusuri kembali jembatan itu, bersama tukang ojek, mata saya senantiasa menatap nanar ke arah sungai Kalimalang. Dimana Ica tenggelam bersama impiannya meraih masa depan lebih baik. Keharuan mendadak terasa menyesak dada, saat teringat puisi spontan Pak Ananto, tetangga saya yang menuliskan persembahan spesialnya buat almarhum Ica pada mailing list Cikarang Baru, 2 hari setelah musibah itu :

bunda,

ica pengen pulang,

kangen ini sudah tak terbendung,

ingin kupeluk erat bayang bunda di sisi malam.

namun tak sampai kupeluk bunda,

tak sampai kuusap pipi bunda,

tak sampai kucium jemari bunda,

ica sudah dalam pelukan kalimalang…

Sumber foto dari Blog Komunitas Blogger Cikarang

Hacker Menunjukkan Cara Pembobolan ATM

Friday, July 30th, 2010
Barnaby Jack, seorang hacker sekaligus direktur IOActive menunjukkan cara membobol ATM pada konferensi BlackHat yang digelar di Las Vegas. Teknik ini dinamakan Jackpotting yang bisa digunakan untuk mengatur secara remote agar ATM mengeluarkan uang yang ada di dalamnya pada waktu yang ditentukan. Jack telah membeli dua mesin ATM dari Tranax Technologies dan Triton sebagai bahan [...]

Aaaaarrrrggghh… Nggak Keliatan!!!

Thursday, July 29th, 2010

beginilah keadaannya saat saya menonton film SALT

Hhhh… Kayaknya udah berapa kali kejadian deh, saya merasa terganggu nonton di bioskop karena di depan saya ada orang yang tingginya cukup menjulang. Salah satunya pernah saya ceritakan di postingan yang ini. Ni orang duduk sambil sradak-sruduk geser kanan-kiri… Trus udah sadar badannya tinggi, tetep aja nggak mau nunduk sedikit. Tetep aja dengan egonya ngalang-ngalangin pandangan saya ke layar. Arrrrgggghhh…

.

Pernah lg ada yg rambutnya jingkrak-jingkrak ke atas. Tau nggak, sih? Pengen aja rasanya saya bawa gunting rumput trus nebas tu rambut dari belakang. Pernah lagi saya ngayal getokin tu kepala orang yang tinggi menjulang yang ngalang-ngalangin arah pandang saya ke layar. Eh ya tapi kalo kepalanya malah benjol dan benjolannya semakin menghambat arah pandang saya ke layar, gimana? Huhuhu… Padahal waktu itu bangku paling belakang juga nggak penuh, loh. Kenapa sih orang kayak gini nggak inisiatif milih bangku yang paling belakang aja supaya nggak mengganggu kenyamanan orang lain yang duduk di belakangnya? :(

.

Lah… tapi saya ini emangnya siapa brani ngatur-ngatur orang yang mau nonton? Setiap orang punya hak yang sama dalam memilih posisi duduk di dalam bioskop, bukan? Errr… ya iya, sih. Tapiiii… Kasihanilah kami (ngajakin korban-korban yang lain ceritanya biar ada temen) yang duduk di belakang orang-orang berpostur tinggi besar itu. Hix… Kami pun juga punya hak yang sama dalam merasakan kenyamanan saat menonton film di bioskop.

.

Kalian salah 1 di antaranya? Salah 1 dari orang-orang berpostur tinggi besar yang suka nonton di bioskop? Ah, syukurlah kalau kalian membaca postingan ini.

.

*minggat pelan-pelan sebelum dikeroyok orang-orang yang berpostur tinggi besar*

Paris at dusk

Thursday, July 29th, 2010

BELAJAR FOTOGRAFI DAN MEMOTRET DENGAN HATI DI CITOGRAPHY

Thursday, July 29th, 2010

Komunitas Fotografi Cikarang akhirnya terbentuk juga. Berawal dari obrolan soal fotografi di mailing List Cikarang Baru disertai diskusi soal foto-foto yang ditayangkan disana, terbit keinginan untuk menggalang potensi para pecinta fotografi di daerah Cikarang dalam sebuah wadah dan menayangkan karya-karya foto mereka dalam sebuah Photoblogging sendiri. Ternyata niat itu disambut baik.

Adalah Mas Eko Eshape, yang kemudian beraksi membuat milis khusus untuk ini dengan nama unik : Citography dan merupakan singkatan “Cikarang Photography”. Saya juga ikut melakukan aksi cepat tanggap dengan membuat blog khusus foto dengan nama yang sama. Selain saya, posisi admin di blog tersebut saya percayakan pula kepada Mas Eko dan Mas Firman, yang memang keduanya memiliki kompetensi memadai dibidang fotografi. Yang menarik pula adalah di blog tersebut, secara otomatis ditampilkan data-data teknis mengenai foto yang ditayangkan sehingga para penikmat foto bisa pula melihat setting kamera ketika foto itu diambil.

Tak ayal, hanya dalam jangka waktu singkat setelah blog dan milis itu diorbitkan di jagad maya segera menuai reaksi positif. Foto-foto hasil karya sejumlah anggota milis mulai “merajalela” di blog dan ditanggapi ramai-ramai baik dengan advis profesional maupun canda. Memang harus diakui, buat saya yang hanyalah fotografer amatir, advis yang diberikan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pemotretan saya selanjutnya. Seperti foto burung Merak yang saya ambil di Tajur yang ditanggapi langsung oleh Pak Firman dan Pak Beni dengan saran-saran yang bagus untuk peningkatannya dimasa mendatang.

Semoga komunitas fotografer Cikarang ini terus berkembang dan memberikan kontribusi terbaik, tidak hanya pada anggotanya saja tapi wilayah Cikarang dan sekitarnya. Bravo Citography !

July Flies

Wednesday, July 28th, 2010

I’ve been trying to write all these things, in my mind. Unfortunately they are queuing in non-alphabetical order (and worse) behind my fixed items of to-do-list: to procrastinate, to procrastinate, to procrastinate, to procrastinate, to procrastinate, and so on. Did I tell you it is holiday?

After returning to the city, my family and I went for vacation. We took pictures and smiled a lot :) :) :) Then I got back to Bandung; to do my routine in LFM. The bad news was: I missed an opportunity of volunteering in Global Citizen Corps Indonesia. Did I regret that? Kinda yes, for people around me all are seemed to do GREAT things like internships, exchange programs, backpacking, etc. I kinda, envy them.

Well, I changed my mind:

HEY, THIS IS HOLIDAY!!

I’ve almost always been busy on Julies, BUT this time, I feel like really taking breaks. I buy novels, and DVDs. I spend a lot of times with LFM, have frozen yogurt everytime I want, and tell my boyfriend that I miss him. F__k the rest. Really. Just f__k the rest.

Next semester is coming, and I would stop pretending like I have all time in the world.

Sex dan Pornografi

Wednesday, July 28th, 2010
Karena keasyikan ngutek2 modem, aku ketinggalan gag nonton @matanajwa yang malam ini mengangkat topik ‘Jerat Pornografi’. Nara sumber yg dihadirkan adalah @tifsembiring, @valensriyadi dan @ngabdul. Detil pembicaraan yang terjadi aku tidak tahu (lha wong gag nonton), tp ada twitt menarik. Kata @tifsembiring : kata “sex” termasuk pornografi. @matanajwa sumber: @valensriyadi Gedubrak … sesimple itu kah [...] Related posts:
  1. Kisah dari Negeri yang Menggigil
  2. Jeneng Anak Kewan

Kusmi Tea

Wednesday, July 28th, 2010

Setelah vonis untuk mengurangi asupan kopi ke tubuh itu berlaku, keluarga besarmu seolah menjadi safe heaven. Rasa yang light tentunya tak bisa menggantikan kenikmatan kopi dengan cita rata bold dan mantappp. Tapi apa boleh dikata, kesehatanku tentu yang paling utama.

Kamu perlu tau, aku tak mudah berpaling ke jenis teh yang lain. Sebagai penikmat teh melati, aku telah semena-mena menilai rasa teh yang lain. Terus terang teh Oolong kurang berjodoh dengan lidahku. Apalagi teh chamomile yang jelas jelas gagal membuatku relax. Bahkan diantara beberapa merk teh melati yang ada, aku cenderung setia satu atau dua merk saja.

Penampilanmu yang cukup elegan nan menawan, sepintas membuatmu terlihat berkelas. Tapi inilah aku, penikmat teh melati asli dari negeri sendiri. Aku tak goyah hanya dengan silauan mata. Hatiku pun takkan jatuh tanpa menelusup ke dalam cita rasamu.

Lalu pagi menjelang siang itu, aku melewatimu dan lantas mengacuhkanmu. Kamu beruntung, suamiku yang ganteng itu langsung melirikmu. Iya, dia jatuh hati. Semenjak memasuki Galleries Lafayette di lantai 6, matanya telah mengarah kepadamu. Seharusnyalah kau tersanjung. Aku menghampirimu sesaat hanya ketika suamiku bertanya, “Dek, mo nyobain yang rasa apa?” Kamu pasti sudah menduga jawabanku. “Indifferent”. Di duniaku hanya teh melati yang hidup, dan hanya dua merk saja yang menancap tajam di hatiku. Maaf, aku belum mengenalmu. Tapi suamiku yang baik hati tentu takkan sesinis aku. The finest Russia blend, bisik suamiku bangga tatkala meraupmu dari deretan teh di rak itu.

Beberapa hari sesudahnya… demi suamiku, aku menyeduhmu di air panas. Sengaja aku membaca buku petunjuk yang tersedia di dalam kotak kemasanmu yang memang cantik. Kaleng yang membungkusmu saja tampak unik. Tak bisa kupungkiri bahwa suamiku pun langsung jatuh hati.

Hatiku mulai bergetar tatkala sepintas aku melihat sejarah panjangmu. Dari Rusia, lalu London dan berakhir di Paris. Dari tangan seorang bocah bernama Pavel Michailovitch Kousmichoff, yang mulai belajar meramu teh diusianya yang cukup dini, 14 tahun, kamu menjadi teh kelas dunia. Bermula dari warung teh kecil di Sadovaïa Street, Rusia, tempatmu terlahir, reputasimu mulai memuncak. Kala itu tahun menunjukkan angka 1867.

Membaca kisah panjangmu telah menyulutkan gelora jiwaku. Rasa itu kian memuncak tatkala rasamu yang sedikit bold, tapi pleasant dan smooth itu terkecap di lidahku. Akupun jatuh hati.

Tanggapan untuk Artikel Denny Indrayana : Kontroversi keabsahan Hendarman (oleh Yusril Ihza Mahendra)

Wednesday, July 28th, 2010
Artikel ini merupakan tanggapan saya atas tulisan Dr Denny Indrayana yang dimuat pada harian Seputar Indonesia, Sabtu, 17 Juli 2010. Tanggapan ini dimuat oleh harian Seputar Indonesia pada tanggal 19 Juli 2010. ***** DALAM berbagai kesempatan, bahkan di hadapan Mahkamah Konstitusi, saya telah menegaskan bahwa kedudukan Hendarman Supandji sebagai jaksa agung adalah tidak sah. Dasar [...]

Artikel Denny Indrayana I : Kemerdekaan Jaksa Agung Non-Kabinet

Wednesday, July 28th, 2010
Harian SEPUTAR INDONESIA – Sabtu, 17 July 2010 memuat tulisan dari Dr Denny Indrayana mengenai kontroversi keabsahan Jaksa Agung. Tulisan ini kemudian saya tanggapi agar khalayak dapat menilai argumen kedua belah pihak dan dapat memahami landasan dan dasar pemikiran saya. Mengingat tulisan masing-masing sangat panjang, saya memisahkan tulisan dan tanggapan dalam beberapa artikel terpisah. Semoga [...]