Archive for the ‘ibu bekerja’ Category

Kisah ASI: Perjalanan Tiga Botol Cinta

Friday, June 25th, 2010

Halo, kami tiga buah botol. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari diri kami. Kami hanya botol minuman kemasan vitamin C yang banyak dijual di retail-retail. Ketika isinya habis, sebentar saja kami sudah masuk ke dalam bak sampah dan diangkut ke TPA terdekat. Tapi tunggu… di sinilah perjalanan cinta kami dimulai! Seorang bapak pemulung tua memungut kami dengan binar cinta dan harapan. Setidaknya ada rupiah yg bisa dibawanya pulang. Sampai ke pengepul, kami digosok, distelisisasi, hingga.. cling! Tak ada yang menyangka kami pernah teronggok di tempat sampah. Kerennya… recycle nih.

Meski kami sering tak suka dengan sesuatu yang berbau eksploitasi, kali ini kami senang diperdagangkan. Mengapa? Karena pedagangnya mengambil kami dengan halal, malah mengurangi volume sampah ibukota. Terlebih lagi… pemulung dan pengepulnya mencari usaha yang halal meski tak sedikit orang yang mencibir. Tak ada yang perlu merampok kami untuk mencari uang. Kami pun menjadi apa adanya diri kami. Dengan kami, mereka menyuapkan sesendok nasi untuk anak dan istrinya. Di dalamnya tersimpan berkah, doa, dan cinta.

Dan… nah! Kami pun sampai di tengah keluarga kecil sederhana. Seorang ayah yang suka makan, ibu yang cuek, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik berusia 1 bulan. Di sinilah perjalanan cinta kami BENAR-BENAR dimulai!

Satu bulan sebelum mulai meninggalkan cuti melahirkannya, ibu si Baby sudah mulai mensterilkan kami lagi dan lagi. Di tengah waktunya mengurus seorang ayah yang suka makan, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil nan cantik, ia mengisi kami satu persatu. Setelah mencuci popok-popok dan pakaian, setelah menyetrika, setelah memasak, setelah mengedit naskah, setelah melayout, setelah mendesain, setelah menulis ide-idenya, sambil menahan kantuk, ia memaksakan diri untuk mengisi kami. Mengisi kami dengan cairan cinta….

Sesungguhnya bagi perempuan itu, tidak ada yang mewajibkannya bekerja. Sama halnya dengan tidak wajibnya ia untuk berada di rumah saja. Ah, dia lebih suka memakai kata berkarya daripada bekerja. Baginya semua hanyalah pilihan. Ketika situasi dan kondisi memberikannya jalan untuk berkarya, ia menjalaninya dengan senang hati. Menjadi ibu bekerja bukan berarti tidak mencintai dan mengabaikan anak-anak. Banyak juga ibu yang selalu di rumah nyatanya yang stres karena anak-anaknya. Tidak selalu satu ditambah satu sama dengan dua, prinsipnya. Ia hanya berusaha untuk sedikit cerdas menyiasati dan berdamai dengan kondisi yang serba terbatas. Karena ia tahu, betapa banyak ibu bekerja yang dalam hatinya menjerit karena naluri keibuannya menuntutnya untuk selalu mendampingi anak-anaknya. Ia pun salah satu di antaranya. Tetapi ia memilih untuk tersenyum, bukan menjerit. Pun ketika ia memilih untuk hanya memberi ASI kepada anaknya, bukan susu formula, ia berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan yang terbaik sambil tetap tersenyum.

Dua bulan berlalu. Akhirnya ia mulai harus benar-benar meninggalkan kebahagiaan sejatinya. Ia harus mulai bekerja lagi. Si ibu mulai jarang kelihatan di rumah. Setiap pagi, ia membawa tiga di antara kami yang kosong, bersama dua tangkup es biru. Ia sering dibilang keras kepala dan memaksakan diri, tapi ia tak pernah keberatan. Apalah artinya tuduhan bila dibayar dengan kepuasan rasa telah berusaha memberikan yang terbaik untuk bayi kecilnya. Bagi sebagian ibu, dapat memberikan anaknya asi eksklusif adalah sebuah kewajaran, tetapi baginya –yang selalu bekerja sejak pagi hingga sore– itu adalah sebuah pencapaian yang membahagiakan.

Setelah menciumi bayinya tak ada henti pagi itu, tak lupa membalurinya dengan doa, si ibu melangkahkah kaki panjang-panjang. Ia melompat ke dalam angkot, menyusup ke dalam ular besi yang selalu penuh sesak, menuju tempatnya berkarya. Baginya semua adalah karena cinta. Itulah bedanya bekerja dengan berkarya. Ketukan keyboard dan goresan kursor yang tercipta karena cinta memiliki tenaga yang akan membuatnya diterima oleh hati siapa pun. Tidak selalu indah, tetapi kekuatannya dapat dirasa. Itulah juga yang kami rasakan. Kami botol-botol cinta, begitu sebutan darinya. Bahagia bukan kepalang. Kami hanya botol-botol seribu rupiah. Tapi kami terisi cairan tak ternilai rupiah. Makanan terbaik bagi bayi yang baru mengenal dunia.

Satu demi satu kami terisi penuh. Ketika matahari mulai lelah, hendak menuju kasur empuknya, si Ibu dengan riang memasukkan tubuh kami ke dalam ranselnya yang selalu kembung. Kami ikut terguncang ketika ia berlarian mengejar ular besi yang tampaknya terlalu dirindu. Meski tak sekali ia terjatuh mengejar ular yang sering mengecewakan itu, tak ada jera sang ibu terus berharap. Tampak buncahan rasa rindu karena memikirkan bayinya yang lucu. Sejenak ia tersenyum membayangkan hidungnya digigiti gigi muda yang baru berputik, rambutnya ditarik jemari kecil nan gendut-gendut, roknya digelantungi tubuh kecil yang mulai belajar berjalan.

Kami, tiga botol cinta, semakin didekapnya erat ketika ular besi yang digelantungi manusia bak semut mulai muncul. Tubuh mungilnya melompat ke dalam dan terombang-ambing sejenak. Di dalam ular besi yang membuat orang kurus itu pun ia tetap tersenyum, memikirkan obat anti-depresannya. Obat anti depresan yang mulai pintar merengek dikala melepas kepergiaannya setiap pagi. Dan… terbanglah kami bersamanya. Kami, tiga botol cinta….

Sumber/Ditulis oleh: Aminah Mustari, seorang ibu bekerja yang juga memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.

Perempuan Bekerja – Karyawan Hebat

Monday, June 7th, 2010

Perempuan bekerja sering kali dituduh mengalami “conflict of interest” karena sering izin dari kantor untuk menemani anak. Hampir tidak ada pria yang dianggap mengalami kondisi ini, padahal itu terjadi karena pria tidak dibebani tanggung jawab untuk mengasuh anak. Perempuanlah yang harus menanggung beban tersebut, dan mereka masih harus menerima tuduhan tersebut.

Padahal, kalau saja perusahaan mengerti, perempuan berkeluarga justru merupakan karyawan yang paling dapat diandalkan. Adanya peran ganda tersebut saja sudah membuktikan bahwa perempuan mampu mengerjakan lebih banyak pekerjaan. Linda Waters, career coach yang juga pendiri BacktoBusiness.org, memberikan lima alasan lain mengapa perempuan bekerja bisa jadi karyawan paling hebat:

1. Profesionalisme
Anda tidak akan membuyarkan konsentrasi klien dari urusan kerja dengan menunjukkan telepon dari pacar yang ingin ketemu, tato, rok mini, beachy hair ala Miley Cyrus yang bikin klien gemas ingin mengikatnya, atau berbicara dengan terbata-bata.

2. Pintar mengatur jadwal
Jika ada orang yang paling cermat mengatur jadwal, itulah para ibu baru. Bagaimana mengatur antara pekerjaan administratif, berolahraga, dinas keluar kota, menelepon si mbak di rumah untuk menanyakan kabar anak, sampai membuat janji dengan dokter anak, Anda bisa melakukannya tanpa meleset. Perempuan yang sudah memiliki anak sangat mahir menangani hal ini, bahkan tahu bagaimana menghadapi kekacauan dengan tenang.

3. Kemampuan mengelola
Tak satu pun kegiatan di atas yang tidak dilakukan dengan lebih dulu mengelola apa yang harus dibawa dan dilakukan. Membawa pemompa ASI, membawa snack agar tidak kelaparan di jalan, membawa berkas-berkas dari kantor, hingga membawa sepatu dan pakaian untuk berolahraga. Jika satu saja elemen di atas meleset, seluruh jadwal bisa berantakan. Terlambat pulang, bisa-bisa si kecil menangis sepanjang malam, dan hal ini lebih menakutkan daripada ditegur atasan!

4. Loyal dan pintar bernegosiasi
Jika perusahaan ingin mengetahui karyawan mana yang loyal dan mampu memberikan yang lebih, itulah para ibu. Perempuan berkeluarga tahu bagaimana menghargai pekerjaan dan fleksibilitasnya. Sebagai karyawan, Anda juga pintar bernegosiasi. Misalnya, jika Anda boleh pulang lebih sore hari ini, Anda akan datang lebih pagi besok. Atau, jika Anda boleh izin sebentar untuk menjemput anak di sekolah, Anda akan sekaligus mampir menemui buyer.

5. Manajemen SDM
Sebagai ibu, Anda harus memberikan briefing untuk pengasuh anak, bersosialisasi dengan sesama orangtua murid pada pertemuan bulanan, membantu menyiapkan arisan keluarga suami, menyiapkan laporan yang akan dipresentasikan atasan Anda di acara regional meeting, dan tentunya menyusun kegiatan Anda sendiri di kantor. Anda harus berurusan dengan banyak orang dengan kepribadian dan jadwal yang bervariasi. Jika tidak terbiasa menghadapi manusia dengan berbagai persoalannya (dan persoalan Anda sendiri), Anda pasti langsung menyerah.

Sumber: Kompas.com, Penulis-Editor: Din, dari “BackToBusiness”

Penguat Hati

Friday, February 5th, 2010

Dengerin sepatah kata–nya I Gede Prama di radio tadi sambil berangkat kerja, dihubung-hubungkan dengan ibu pekerja macam saya ni.. atau lingkungan kerja, kok pas juga ya.
Ini nih ringkasannya:
1. Kalau kita sering bertemu dengan orang yang pemarah, berbahagialah karena sebenarnya orang pemarah adalah guru bagi kita untuk belajar sabar.
2. Kalau kita berhadapan dengan orang yang suka menyakiti hati kita, bersyukurlah, karena sesungguhnya itu adalah tempaan agar kita kuat.
3. Kalau kita selalu berhadapan dengan orang yang sulit, bersyukurlah karena hal itu mengajarkan kita untuk selalu “aware” dalam kehidupan.

Hhmm… by the way.. kalau di pekerjaan berlangsung mulus-mulus ajah, kadang-kadang bosan juga looh.. serasa tak ada tantangan. Kalau kita menghadapai masalah n kemudian mampu menyelesaikannya, selalu ada kepuasan di dalam hati kita. Pernah buktiin..?

Mengubah Sudut Pandang

Wednesday, January 13th, 2010

Menyambung postingan sebelumnya, berikut ini ada beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR:
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yang membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk semua masalah dan penderitaan hidup yang saya alami, karena itu artinya saya memiliki pengharapan hidup kekal yang penuh suka cita di surga.

sumber : unknown

Sharing Buat Ibu Bekerja

Tuesday, January 12th, 2010

Mungkin hal yang yang bikin stress para ibu bekerja adalah karena ketika pulang kantor rumah berantakan, anak-anak rewel, dan urusan rumah tangga menumpuk. Saya postingkan tulisan seorang kawan Bapake Ghz (thanks ya Pak). Semoga bermanfaat.

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki empat anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih, teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &
berkata kepada sang ibu, “Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan”
Ibu itu kemudian menutup matanya.
“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaanibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya “Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud Anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Ibu Bekerja dan ASIX

Thursday, October 22nd, 2009

Wuah lama ya gak update blog. After Ramadlan trus Hari Raya, bersibuk-sibuk sama Taj n my Kania. Alhamdulillaah hari ini my Kania lulus S1 ASIX alias berhasil ASI ekslusif 6 bulan. Sueneng rasanya.. secara sayanya ibu bekerja akhirnya bisa juga dengan niat yang bulat, didukung dearest hubby n semua info dari AIMI n milis AFB. Kalau boleh waktu diputar balik, ASIX juga buat Kakak n Taj. Duh.. nyesel rasanya. Karena kurang info n dukungan waktu itu (jaman kegelapan) Taj cuman ASIX 3 bulan n Kakak malah parah, sejak lahir dah kenal Sufor. Emang sih ASI juga tapi rasanya waktu itu kok wajar aja mencampur n menambahkannya dengan sufor. Ditambah lagi sayanya ibu bekerja. Bidan n dokter kok juga gak pro ASI banget, malah suka ditanyain sufor-nya apa? Padahal waktu itu kalau lagi tugas luar ya merah ASI juga, tapi kok dibuang bukannya disimpan. Walaah… Juga MPASI-nya (waktu itu emang dimulai di bulan ke-4), sering pakai bubur instan. Duh Kak n mbak Taj.. maafkan ibu ya nak. Jaman kegelapan, he..he.. Udahan ah curhatnya. Buat my Kania kali ini MPASI home made menyambutmu ya..

Sharing Untuk Semua Ibu Indonesia

Thursday, August 20th, 2009

Saya sharingkan email dari seorang teman, Ibu Enny Hasan Koehler waktu kami-kami yang nota bene ibu bekerja ni mengalami kegundahan hati ingin bekerja dari rumah tapi belum mampu. Semoga berguna buat yang lain yang mengalaminya.

—————————————————————————————————
Dear semua ananda tercinta….
Pergumulan antara tugas dan cinta….betapa agungnya wanita sebagai istri, ibu, tetapi juga membantu mencari nafkah menopang, membantu mencegah defisit anggaran bulanan….betapa mulianya wanita yang tidak bekerja di luar rumah, berdedikasi untuk keluarga, terutama anak-anak.
Kedua kategori ini membuat wanita indonesia luar biasa…..
Ide menyampaikan “dongeng” ini adalah karena adanya semacam “perang batin” di dalam dada para ibu yang berkarir (baca: bekerja di kantor/di luar rumah) dan merasa bersalah terhadap anak-anaknya (segi pendidikan dan kebersamaan) dan.. merasa “tidak berpotensi sukses” kalau tidak bekerja. Sering Nenda baca kalimat : Saya cuma ibu Rumah Tangga. Saya benci membaca kalimat itu, karena “the best place for a woman is at home”…Ini kalau kita hanya mempunyai tugas layaknya seorang Permaisuri, yang hanya mengurus masalah “dalam negeri” sedangkan zaman sekarang ini masih banyak (hampir semua kepala keluarga/suami masih perlu didukung dari segi ekonomi rumah tangga walaupun bukanlah merupakan suatu keharusan)

Anak-anakku….ananda semua….
Waduh-waduh ini jadi ramai dan seru…baiklah Nenda yang sudah merasakan kehidupan rumah tangga dan berkarir memberikan sedikit “dongeng” kepada Ananda semua, dengan harapan setelah membaca dongeng ini semua pihak…(lho seperti akte notaris..he he) menjadi tenang, dan masalah ini dapat di-closed… .masih banyak lagi hal yang memerlukan perhatian Ananda semua sebagai ibu-ibu yang masih muda.

“Dongeng” saya begini (true story)..

Kakak saya (alm) seorang ibu rumah tangga sejati. Dia selama hidupnya berbahagia dengan melahirkan hampir setiap tahun (bahkan ada yang lahir di tahun yang sama, Februari dan November) hingga 8 orang anak. Kebahagiaan hidupnya adalah melahirkan, menyusui, membesarkan anak…..tanpa pembantu. Zaman sekarang 8 anak is just unimaginable. Tapi beliau laksanakan dengan happy, jam 11 malam masih setrika baju seragam, mulai yang warna-warni anak TK, putih merah, putih biru dan putih abu-abu ….setelah disterika tidak masuk ke lemari pakaian anak-anak tetapi digantung persis seperti laundry….alhamdulillah anak-anak semua mengerti kerja keras mama mereka, mereka belajar dengan tekun, lulus universitas dalam berbagai jurusan. Padahal keadaan ekonomi mereka pas-pasan, suaminya (alm) dulu pegawai biasa di PLN….tidak ada dana tambahan atau sampingan. Kebahagiaan dan sukses yang diraih kakakku tersebut adalah ditengah anak-anaknya. bayangkan 8, setahun 1…ada adik yang pipis di meja makan, padahal beliau sedang menyuapi sang kakak yang berusia 3 tahun…. Kebahagiaan beliau tanpa mengetahui bahwa Julio Iglesias sedang manggung di JCC….tidak tahu bahwa ada show American Idol di TV..kebahagiaannya adalah menerima raport anak-anak dengan nilai tinggi, anak-anak sehat, dia tenang dipeluk suaminya karena kelelahan sampai hampir tertidur di dekat meja cuci piring…Kebahagiaan adalah membersihkan mebel setiap hari saat anak-anak sedang di sekolah…sambil menyanyi lagu-lagu everly brothers dia merapikan kamar-kamar, mengepel dll……
Enam anaknya sarjana , dan si bungsu, sekarang 26, baru saja menikah hari minggu y.l. Sayang beliau sudah tidak ada untuk menyaksikan akad nikahnya.(Saya menundukkan kepala sebentar, semoga kakak alm /bersama suaminya di terima di sisi Allah, Amiiin) dan nenda bahagia dapat berdiri di samping pengantin pria.

Itu dongeng pertama, untuk dibandingkan atau disejajarkan dengan dongeng kedua…

Ini saya pribadi sebagai adik alm. Kita berdua berbeda 2 tahun…jadi saya (Nenda) kini berusia 64, kalau beliau masih ada pastinya sekarang 66… Nah hanya berpaut dua tahun, tapi cara kita melihat kehidupan dan kebahagiaan berbeda. Saya wanita karir (baca: ibu bekerja), sampai hari ini masih memberi training/seminar/guest speaker/apalah itu namanya terserah ananda membacanya.. …kemarin dari Bandung setelah dua hari memberi inhouse training (pelatihan ingriya) untuk para sekretaris perusahaan swasta …itulah kebahagiaan saya, berkarir dan membagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada para profesional muda yang memerlukannya. Karir Nenda mencapai orang ketiga (Direktur HRD) di lapisan pimpinan…. Subhanallah. .. Juga memberikan sarasehan kepada kaum ibu/istri-istri yang ingin mengetahui betapa life is so wonderful and colourful… .

Kalau kita lihat anak-anak kakak alm. berhasil karena doa, kerja keras ayah dan mamanya. bagaimana anak-anakku yang seharian ditinggal kerja? Terkadang rapat direksi dimulai pukul 6 sore? jam 10 malam baru sampai di rumah? Kapan mengurus anak-anak dan suami? Mana kebahagiaan bersama keluarga? Nah.. di sini diperlukan time management yang “luar biasa”….Alhamdulillah, berkat karunia Alah SWT, suamiku sebagai pensiunan A.L. Jerman, berada di sampingku di usia senja ini. Kami tinggal berdua di rumah, anak-anak sudah keluar dari “nest” mereka…berkeluarga 3 orang, yang sudah member cucu 2 orang (masing-masing dua, berarti cucu nenda sudah 4), seorang masih single (bungsu) di London…keasyikan bekerja, belum mau berumah tangga….tetapi dia happy dengan cara hidup yang alhamdulillah masih dalam lindungan Allah SWT…amin.

Dari “dongeng” tersebut diatas, mari kita akhiri email-email mengenai hal ini. Bekerja di rumah merupakan karir yang terhormat, apabila ananda mengetahui bagaimana mengisi hari-hari ananda, bagaimana membagi diri kita ke dalam waktu yang tersedia (semua ibu mempunyai waktu 24 jam sehari….) hingga menikmati bahwa life is wonderful and so colorful….
Catatan: Time Management bukan memanage waktu, tetapi memanage diri kita di “plot” kan pada waktu 24 jam tersebut…Tidak ada lagi excuse: saya tidak punya waktu untuk berolahraga. …padahal semua orang mempunyai waktu yang sama yaitu 24 jam…

Tambahan Nenda :
Apabila suami sebagai kepala keluarga, sebagai imam, mengatakan kepada kita istrinya…Ma, nampaknya mama harus tinggal di rumah…anak-anak menjelang remaja, mereka memerlukan perhatian lebih dari mama mereka. Jangan marah, jangan menghardik.. .papa nih gimana sih, udah cape’ meniti karir, sekarang enak saja menyuruh resign. Anda harus kembali mengingat pesan nenda terdahulu — the best place for a woman is at home.
Nenda katakan the “best”, berarti tempat yang lain pun(kantor) adalah good…. jadi bersyukurlah, berterima kasih kepada Allah SWT bahwa suami anda begitu baik untuk mengembalikan kita wanita kepada fitrahnya… yang agung…sebagai seorang ibu .
Setelah mendengar suami minta kita stay home, atau karena anda sendiri yang ingin stay home mengingat kangen kepada anak-anak sedemikian kuatnya, mengingat waktu yang kita mau berikan kepada anak-anak….silakan anda duduk sebentar dan menulis daftar : plus dan minus apabila anda tidak bekerja…
Dari daftar itu, apabila lebih banyak plus nya, langsung mengundurkan diri dari perusahaan, one month notice is due.
Kalau lebih banyak minus nya ananda di rumah…nah pertimbangkan waktu untuk berkarir (baca: bekerja) beberapa tahun lagi.

Contoh items yang akan dimasukkan kedalam daftar plus minus itu, misalnya:
1. Pendidikan anak-anak……. nilai +
2. Kerapian rumah……. .+
3. Biaya anak-anak sekolah….. ..(S1, S2)… apakah suami masih perlu dibantu ? ini bisa + atau -
4. Asuransi kesehatan… ….(apakah tercover semua anggota keluarga kalau sakit? biaya opname?)
5. Kapan suami bisa mendapatkan income yang mapan (paling tidak dua sumber jadi 1 sumber)?
6. Kapan suami menjadi pimpinan di salah satu perusahaan? (ambisi positif)
dll.dll.banyak lagi…

Kalau hasilnya lebih condong ke +…alhamdulillah. ..anda bisa bersama anak-anak 24 jam sehari…. kalau hasilnya lebih condong ke – ….minta dukungan suami untuk tetap berkarir (baca: bekerja di luar rumah) beberapa tahun lagi..
Apabila semua dibicarakan, dirundingkan, direnungkan hasilnya, direncanakan, Insya Allah apapun keputusan ananda adalah yang terbaik nantinya, karena sudah diperhitungkan, dipikirkan, direncanakan.
Jangan lupa selalu berdoa.

Kesimpulan: anda akan dapat tetap berbahagia dengan stay at work, juga anda akan tetap berbahagia bersama dengan keluarga dengan waktu yang penuh dan total. Seorang ibu rumah tangga total (100%) adalah pekerja yang ulet, tanpa cuti, tanpa lembur….selalu setia pada pekerjaannya. …

Bravo ibu bekerja….bravo ibu rumah tangga total…..
Jadilah Ibu yang Luarrr Biasa……