CATATAN DARI LOKAKARYA ENERGI NASIONAL : KETAHANAN ENERGI UNTUK KEDAULATAN & KEMAKMURAN NEGERI (Bagian Ketiga)

loka-2

Seusai makan siang, Lokakarya Energi Nasional dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Ketua Tim Reformasi Tatakelola Migas Faisal Basri dipandu oleh Ketua Komunitas Migas Indonesia S.Herry Putranto. Beliau membuka presentasinya dengan mengulas Tugas Pokok Tim Reformasi Tata Kelola Migas antara lain: Mengkaji seluruh kebijakan dan aturan main tata kelola migas dari hulu hingga hilir yang memberi peluang mafia migas beroperasi secara leluasa ; Menata ulang kelembagaan, termasuk didalamnya memotong mata rantai birokrasi yang tidak efisien ; Mempercepat revisi UU Migas dan memastikan seluruh substansinya sesuai dengan Konstitusi dan berpihak pada kepentingan rakyat ; dan Mendorong lahirnya iklim industri migas di Indonesia yang bebas dari para pemburu rente di setiap rantai nilai aktivitasnya.

FB-1

fb-2

Selanjutnya, ekonom terkemuka dan mantan calon Gubernur DKI Jakarta 2011 dari jalur independen dan sempat “bertarung” dalam Pilkada bersama Jokowi ini, menguraikan sejumlah tantangan berat yang tengah dihadapi Indonesia sekarang di bidang migas yaitu: Produksi minyak turun terus menerus menjadi hanya 792 ribu barrel per hari, hanya separuh dari tingkat tertinggi 1,6 juta barrel per hari tahun 1981. Sebaliknya, konsumsi minyak meroket dari hanya 396.000 barrel per hari tahun 1980 menjadi lebih dari 1,6 juta barrel tahun 2013 atau naik 4 kali lipat.

FB-3

“Diperlukan langkah-langkah nyata dan tegas agar situasi ini tidak semakin memburuk apalagi Subsidi BBM telah merongrong APBN. Dalam 10 tahun terakhir, hampir selalu (9 tahun) subsidi BBM lebih besar dari nilai defisit APBN. Hanya tahun 2009 saja subsidi BBM lebih kecil dari defisit APBN. Defisit APBN ditutup dengan utang, yakni menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). Berarti, secara tak langsung, subsidi BBM dibiayai oleh utang pemerintah,” tegas lelaki yang meraih gelar Master of Arts (M.A.) dalam bidang Ekonomi, Vanderbilt University, USA (1988) ini.

fb-4

fb-3

FB-4Beliau kemudian menyoroti soal kebijakan pemerintah Indonesia yang sudah puluhan tahun tidak membangun kilang (bahkan kilang termuda sudah berusia diatas 20 tahun) dengan alasan Profit margin rendah dan Insentif pajak tidak ada atau tidak memadai. “Padahal keberadaan sangat penting karena selain menghasilkan BBM, kilang juga menghasilkan produk sampingan seperti kondensat dan Naphta. Kilang terintegrasi dengan industri petrokimia yang bahan baku utamanya produk sampingan tadi. Industri Petrokimia sendiri berperan penting sebagai industri dasar yang menjadi pilar industrialisasi,” ujar  Pria berdarah Batak yang juga merupakan salah seorang keponakan dari mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik ini

“Saya sangat berharap kerjasama dan dukungan semua pihak untuk tim yang saya pimpin agar bisa membangun tatakelola migas yang ideal sesuai yang kita impikan, demi kesejahteraan negeri yang kita cintai,”kata pria kelahiran Bandung tanggal 6 November 1959 menutup presentasinya.

(Bersambung)