Bima Satria Garuda – The Long Overdue Opinion

Ah, Bima Satria Garuda. Your appearance was short, but sweet in many ways you might not intend it to be.

Bima

Mari kita kembali ke awal , dan Bahasa Indonesia karena gw males nulis inggris terus.

Pas BSG (Battlestar Galactica fans please do not stone me to death) baru diumumin, semua perhatian tertuju pada Ishimori Pro dan Bandai. Bagi sebagian orang, Ishimori Pro adalah alasan kenapa mereka sampe tua demen sama orang-orang berkostum spandex vs orang berkostum karet. Nonton Gorgom Ksatria Baja Hitam adalah masa kecil mereka, membentuk anak-anak menjadi pembela keadilan dalam setengah jam setiap minggu. Walaupun sebagian udah ninggalin masa kecil, sebagian kembali tertarik melalu keajaiban in which, for lack of better name, I call the Pokemon cycle.

Dan bagi sebagian orang, Bandai adalah entitas yang rutin membuat dompet jebol.

Saat Bima Satria Garuda diumumin, lengkap dengan dua nama itu, hopes were raised. Sebagian realistis mengharapkan tokusatsu dengan budget film serial Indonesia, sebagian mengharapkan ekuivalen dari Kamen Rider. Sebagian skeptis ini cuma proyek nyari duit doang, sebagian merasa ini passion project dari beberapa orang yang kebetulan megang posisi yang bisa buat ginian. Gw termasuk orang yang berharap, apapun kualitasnya, BSG bisa jadi arahan yang bener untuk industri semacam di sini sekaligus pecut buat orang-orang yang konon punya ide bikin hero sendiri.

And then came episode 1.

Berkat menjadi satu-satunya di bidangnya, Bima was hyper-criticized. Beberapa ngekritik akting dan dialog yang kaku (“Kok bisa nyala?”), beberapa ngekritik adegan berantemnya yang gak luwes, visual effect yang gak oke, kostum monster yang gak bagus (Reino sendiri akuin ada masalah di kostum untuk beberapa episode awal), a douchebag even made a parody comic.

Tapi di balik itu, ada sesuatu yang bikin dia beda dari usaha-usaha sebelumnya macem Panji atau Saras atau Silat + Naga #1312. Ada arahan yang berusaha mengarah ke tokusatsu. Ada usaha untuk membuat koreografi yang rapi. Ada usaha untuk bikin cerita yang gak asal-asalan. Ada direction yang gak sekedar close up orang-orang supaya gak susah retake. Ada usaha jual mainan. Ada usaha menjangkau fanbase yang udah ada dengan naro personil (sekarang eks) JKT48. Ada audience yang mengerti. Ada harapan.

Pertanyaannya, bisakah Bima menjadi the hope we need?

Episode demi episode berlalu, impact dari Bima makin kurang terasa. Cerita begitu-gitu aja (walaupun rencana-rencana Topeng Besi itu depressingly realistic–seriously who wrote this guy’s plots? I’m a fan). To be fair, ini masalah untuk tokusatu episodik, yang dialami juga oleh Kamen Rider (kecuali Gaim) dan Super Sentai. Tapi gw masih mau excited dengan serial ini. Gw masih pengen nungguin Bima tiap minggu, komentar, ngebahas. Which is why I made the Topengbesi_VUDO account. Cuma supaya ada excitement tambahan tiap nungguin episode Bima. Which turns out to be the best thing I’ve done in the age of late 20′s, maybe?

Tapi, semakin mendekati akhir, secara teknis setiap episode semakin bagus. Koreografi makin rapi dan kreatif. Ambil gambarnya semakin less sinetron-ey and more tokusatsu-ey and I’m making up words. Lalu ada Gackt. In the end, Bima Satria Garuda ended not with a whimper but with a bang. Mungkin atau mungkin tidak ada hubungannya dengan kembalinya karakter favorit saya di menit terakhir.

Best character deserves better.

Dari interview yang gw baca, plus talkshow sama Reino di AFAID 2013, Bima sounded like an expressly made Kamen Rider. Tapi dari omongan-omongan itu ada rasa frustrasi yang gw tangkep. “We can do this! Why don’t we do this sooner?” Sebagai hasil akhir, Bima tampak seperti serial yang dibuat oleh orang-orang yang tahu mereka ingin ngapain, tahu caranya, tapi masih gak biasa. This is 9001 steps ahead from people who only tried

What’s interesting, though, Bima sepertinya bikin orang bangun. Seperti lagi di kelas matematika yang ngantuk, guru nulis soal di papan tulis dan minta seseorang ngerjain. Gak ada yang mau, sampe akhirnya ada satu orang berani nyoba. Dia salah, dan diketawain sekelas, tapi menit berikutnya makin banyak yang ngangkat tangan. “Here’s how I’d do it!” “No! Here’s how we should do it!” “No! Here’s my way!”

Dalam beberapa bulan gw bisa ngeliat orang-orang mulai berani ngeluarin idenya (karena yang punya ide banyak) dengan cara masing-masing. Ada komik, ada sound drama, ada yang sekedar ngeshare gambar tokoh sendiri, ada yang cosplay jadi karakter original. That’s it. That’s what we need. Sekarang tinggal dukung orang-orang ini berkreasi dengan cara masing-masing, or better, kita juga punya karya sendiri.

Masih butuh beberapa tahun, generasi mungkin, sampe kita bisa punya industri entertainment yang rapi. Tapi selama belom ada, it’s a free zone for all. Do whatever it takes to get noticed.

Dan Bima? With the announcement of season two looming next week, it should be getting better. Apakah akting para aktor makin bagus? Apa mereka bakal banyak koreografi out of costume? Apa Topeng Besi berperan lebih banyak? Apakah kita *akhirnya* bakal tahu Rena mau masak apa dengan asparagus?

Gw? Gw bikin parodi lagi ajah.