Archive for June, 2007
Gubuntu, tahu gak?
Thursday, June 28th, 2007Wifi Dell Latitude D610 di Ubuntu
Thursday, June 28th, 2007Cinta Sederhana
Wednesday, June 27th, 2007
Pritha Khalida
Malam pertama. Aku nggak ngerti, kenapa sekarang ini kasus-kasus perselingkuhan makin marak dan variatif saja. Dunia mungkin mulai terbalik, atau berubah bentuk jadi jajaran genjang. Saat penghuninya sudah nggak ada yang peduli dan menghargai arti ketulusan sebuah cinta sejati. Well, bilang aku pemimpi. Atau bilang aku naïf. Aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang secara sederhana. Ummh, maksudku, bisa berbagi waktu, tawa, canda, cerita, susah, senang, sedih, marah…Tanpa tendensi apa-apa, sekedar saling memahami dan selanjutnya menerima apa adanya. Salahkah aku? Terlalu tinggikah keinginanku?? Mungkin iya. Buktinya kali ini…Untuk keempat kalinya aku mengalami sendiri akibat dari perselingkuhan. Seseorang yang kucintai dengan tulus, dimana kupercayakan hatiku sepenuhnya…Ternyata hanya menjadikanku sebagai pacar kedua. Menempatkanku pada posisi yang (awalnya) aku yakin nggak diinginkan oleh perempuan manapun di dunia ini. Tapi, keyakinanku sedikit berubah setelah nonton film ‘Jomblo’. Dimana seorang tokoh bernama Lani, mau-mau saja bertahan pacaran sama Agus meski tahu dirinya ‘cuma’ selingkuhan. Seharian air mataku deras mengalir.Untung ada Itie, sahabat sekaligus teman satu kost-ku yang nggak pernah bosan mendengarkan segala keluh-kesahku, tanpa pernah menceritakannya lagi pada siapapun. Atas sarannya pula, sampai larut malam begini aku nggak kembali ke kamarku. Menurutnya, disaat sedih…bersama-sama akan lebih baik daripada sendirian. Hmmh, sepertinya ia benar. Apalagi jika ditambah dengan kehadiran Alissa-teman kost kami yang kecerewetannya bisa bikin kuburan jadi seramai pasar malam di tahun baru.“Bener nggak sih Bertrand itu gay?” tanya Alissa di sela-sela tabloid gosip yang sedang dibacanya.“Alaaah, gosip basi tuh. Ngapain dipercaya sih, Lis?” “Tapi, katanya dia tinggal di apartemen yang sama dengan Indra Bruggman?” “So what? Nah kita tinggal satu kost begini, emang langsung berarti kita lesbi? Enggakkan?” kali ini Itie beranjak dari duduknya, mengambil obat tetes mata dan menyodorkannya padaku.
“May, tolong tetesin dong.” “Beda laaah, Tie. Kita kan satu kost, tapi nggak sekamar. Nah ini, apartemen!”“Trus, memang apartemen kamarnya satu? Miskin amat sih artis kayak mereka nempatin apartemen dengan satu kamar?” Itie mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. “Thanks ya, May.”“May, kok diam aja sih? Nggak ngeri apa tiap hari makin banyak gay?!”“Aah, nggak urusan. Biarin aja, hak mereka kok. Asal nggak ngerugiin kita aja.” Jawabku seadanya. “Lho, secara nggak langsung kita bakal kena imbasnya, May! Coba bayangkan, konon perbandingan jumlah perempuan sama laki-laki di dunia sekarang udah tujuh banding satu. Nah, yang satu itu, mungkin hanya limapuluh persen yang straight. Sisanya, gay, biksu, pastor, dan mereka yang dengan berbagai alasan memutuskan untuk nggak menikah. Lalu, coba hitung lagi, berapa persen laki-laki straight yang belum punya ‘monyet’? Kalau sudah begitu, makin susahlah bagi kita untuk mendapatkan Mr. Right. Iya nggak, Tie?”“No comment.”“Bisa-bisa besok lusa semua majalah dan tabloid nggak lagi ngebahas mengenai Mr. Right, tapi para duda atau lajang yang membuka diri untuk mendonorkan sperma, ya?”“Maksudmu?” aku mendelik mendengar penuturannya.“Dengan niat mulia demi kelangsungan kehidupan di muka bumi, maka proses reproduksi harus terus berlangsung, bukan? Nah, dengan adanya donor sperma, maka para perempuan yang kehabisan stock lelaki, bisa tetap melanjutkan keturunan.”“Berlebihan.” Ucap Itie datar.“Kalian tuh nggak pada peduli sama isyu sosial. Padahalkan yang kayak gini penting untuk dibahas. Hhh, kalau gini ceritanya…bakal makin banyak aja laki-laki yang dengan seenaknya melegalkan poligami!” nada suara Alissa mulai meninggi. Kekesalannya rupanya mulai memuncak, atau bahkan sudah di puncak? Entahlah…“Tie, pinjam dulu tabloidmu ya?”“Jangan lupa dibalikin!” teriak Itie sebelum Alissa menghilang di balik pintu kamar.“Tenang Tie, aku cuma mau catat resep masakannya, kok.”Itie manyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gimana May, enakan perasaanmu?”“Lumayan, Tie. Betul katamu tadi. Ngapain juga kita capek-capek mikirin orang yang belum tentu mikirin kita?! Huh, Adie itu penipu!!!”“Yaa seenggaknya, dia jugakan pernah bikin beberapa kenangan manis buatmu.”“Tapi, itu semua udah menguap, Tie. Tertutup sama tumpukan dustanya!” Aku membenamkan wajah di bantal milik Itie yang sebagian permukaannya sudah menunjukkan warna kekuningan, karena menampung tetesan air mataku hari ini. Itie membelai kepalaku dengan lembut.“Yang penting kamu tahu dari sekarang, saat hubungan kalian belum lama, May. Sepertinya itu lebih baik daripada harus lebih jauh masuk dalam permainan Adie.”Sekali lagi, aku merasa beruntung jadi sahabatnya Itie.
Malam kedua. Aku masih mengungsi di kamar Itie. Hatiku belum benar-benar pulih. Perihnya selalu muncul lagi jika aku melihat kamarku. Kamar yang biasanya jadi tempatku dan Adie berbagi segalanya. Adie yang selama ini kupikir seorang cowok rumahan, karena nggak begitu suka menghabiskan waktu bersamaku di luar, ternyata bajingan! Sekarang mengertilah aku, rupanya keinginannya untuk kencan di kost ku hanya dijadikan alasan agar kami tidak sering kencan di luar, karena hal tersebut memungkinkan kami bertemu pacar pertamanya. Huh, mengapa selama ini aku begitu bodoh?! Kupikir, Adie menyukai dekorasi kamarku. Taunya?!? Cuma untuk tempat sembunyi. Malam ini Itie memasakkan spaghetti dengan saus barbeque yang enak untuk kami santap berdua. Katanya sih sausnya yang kental bisa merekatkan lagi kepingan-kepingan hatiku yang sudah dihancurkan oleh Adie. Aku tertawa mendengar gurauannya. Tapi, mungkin perkataannya ada benarnya juga. soalnya, setelah aku menghabiskan sepiring spaghetti, rasanya kesedihanku terbang sebagian. “May, udah ketemu Alissa hari ini?” “Belum. Kenapa memang?” “Tabloidku belum balik. Padahal di situ ada lowongan untuk TV Citra.” “Lowongan? Mau pindah kerja, Tie? Kok nggak pernah bilang?” “Baru rencana, sih. Kebetulan aja baca di tabloid itu kalau TV Citra lagi butuh script writer. Takutnya kalau keburu besar omong, nanti malah nggak jadi.” “Waah, sukses yaa… Tapi, nggak pindah kost kan?” “Kenapa? Takut kangen ya?” “Huuuu Ge-er!” “Gini-gini aku yakin lho kalau aku memang diciptakan untuk bikin kangen semua orang, heuheuheu…Adooh!!” BUK! Bantal hati miliknya mendarat tepat di dahi Itie yang lebar kayak nampan. Malam itu kami nyaris nggak tidur. Itie cerita banyak hal. Mulai dari keluarganya yang sudah tiga puluh tahun tinggal di Surabaya-tanpa pernah berniat pindah kemanapun, sampai mantan pacarnya yang dinilainya terlalu kemayu dan sebaiknya disimpan jadi kapster salon saja ketimbang memacarinya. Aku lebih banyak mendengarkan, dan sesekali tertawa melihat mimiknya yang selalu bisa memvisualisasikan ceritanya hingga terasa lebih hidup. “Tau nggak May…waktu aku sama Dodi ke Parangtritis…Aku pengin banget menunggang kuda. Nggak lama kemudian, kuda yang kutunggangi terantuk batu, dan aku terpental ke tanah.” “Oya? Trus, tulangmu ada yang patah?” “Patah sih enggak. Mungkin sedikit retak lahh. Yang jelas aku masih bisa jalan. Tapi, tahu nggak apa yang dilakukan oleh Dodi, si ‘tuan-salon-kemayu’ itu? Dia langsung teriak histeris sampai menarik perhatian semua orang yang ada di pantai. Dan, bukannya membopongku, dia malah sibuk minta tolong sana-sini. Ya Tuhan! Terbayang nggak malunya aku sampai di ubun-ubun!!” Aku terkikik. “Ya sudah, aku urus saja kakiku sendiri. Pincang pincang deh. Yang penting terbebas dari tatapan orang-orang yang seolah-olah sorot matanya bilang ‘Dik, itu pacarmu atau babysitter-mu ya?’” “Mungkin itu salah satu caranya memedulikanmu, Tie. Masa segitu saja dibilang kemayu?” “Entahlah, bisa jadi aku berlebihan. Mungkin juga pengaruh pola asuh. Ayahku tentara. Jadilah dari kecil aku dididik dengan pola asuh militer yang serba tegas, nggak manja, dan harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Bukannya sok sibuk kayak Dodi. Laki-laki kok lembek??” Sejenak Itie menghentikan ceritanya, “Keberatan aku merokok di kamar?” “Ya ampun, ini kan kamarmu, Tie.” Pemantik dinyalakan. Itie mulai menghisap rokok putihnya perlahan. Sejujurnya, aku nggak begitu suka sama perempuan yang merokok. Tapi, entah kenapa melihat Itie rasanya tak ada yang salah. Apa karena dia sahabatku? Atau karena ini kamarnya, sehingga aku merasa tak memiliki wewenang untuk melarangnya? Bagiku, Itie lebih terasa seperti kakak kandungku, bukan sekedar sahabat. Seandainya kakakku seperti Itie. Perhatian, tegas namun masih memiliki sisi lembut perempuan. Sayangnya yang kupunya adalah Kak Milla, seorang perempuan pemarah yang bisanya hanya menyuruh-nyuruh adik-adiknya untuk melayaninya, mulai dari mengambilkan minum sampai memijiti kakinya saat pulang kantor. Huh! Untungnya sekarang aku sudah tak tinggal serumah dengannya.
Malam ketiga. “Liiis!!!” “Teh Lissa kayaknya belum pulang, Mbak.” Jelas Ka Yan, teman kost kami yang kamarnya bersebelahan dengan Alissa. “Duh, tuh anak biasanya pulang jam berapa sih?” tanya Itie sewot. “Waah, nggak tentu juga ya. Seringnya pulang malam.” “Nanti tolong bilang, dicari Itie ya, Ka…” pesan Itie pada perempuan berwajah oriental itu. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum, membuat mata sipitnya tertutup nyaris seluruhnya. “May, masih mau nginap di kamarku?” “Ummh, lagi banyak kerjaan ya?” aku mengurungkan niatku semula, demi melihat wajah Itie yang nggak menunjukkan keceriaan sedikitpun. “Nggak apa-apa, kok. Lagi sedikit bete aja. Mungkin kalau ada kamu jadi cepat hilang bete-nya.” Senyumnya muncul sedikit. Itie bete? Kenapa ya?? Tumben. Tak lama aku tahu jawabannya. “Rudi?” aku membaca sebuah nama yang tertera di kartu undangan berwarna kecokelatan di samping laptop Itie. “Tepat!” ujar Itie gusar. Pada saat yang sama sebuah anak panah menancap tepat di lingkaran target berwarna hitam-merah yang terpasang di dinding, dan ternyata tepat mengenai sasaran: foto Rudi! Rudi adalah lelaki yang sudah dipacari oleh Itie setahun belakangan ini. “Tau nggak May, aku nemu undangan itu di atas meja kerjaku setelah beberapa hari ini aku nggak melihat Rudi di kantor. Minggu kemarin bilangnya mau meliput tempat wisata yang baru dibuka di Balikpapan. Nggak tahunya, urus pernikahan! Hhh…laki-laki banci! Nggak berani ya ngomong langsung?!” Itie terus saja memaki. Aku hanya bisa mematung di tepi ranjangnya. Hingga akhirnya Itie merebahkan tubuhnya. Aku mencoba mencari barang setetes saja air bening di pelupuk matanya. Tapi, nihil. Itie mungkin memang tak pernah menangis. Aku tak tahu apakah karena ia diajarkan untuk tidak menangisi laki-laki, atau sebetulnya memang nggak punya persediaan airmata selain untuk menguap? Ya, Itie adalah sosok tangguh yang selalu memotivasiku agar tetap bertahan atas segala kesulitan yang kualami, terutama masalah pacar. Tapi, sekuat-kuatnya aku, tetap saja aku menangis. Tapi Itie tidak. Ia begitu tegar di mataku. Coba kalau sekarang ini aku yang ada di tempatnya, mungkin yang kulakukan adalah meraung-raung sambil secara impulsif menghabiskan makanan apapun yang ada di hadapanku.
“Hey! Kok wajahmu jadi sendu gitu sih? Aku nggak apa-apa, kok.” “Nggak sedih, Tie?” “Nope! Kan selama ini aku selalu bilang, ngapain musingin orang yang bahkan ingat sama kita pun enggak?!” Aku memeluk Itie. Mungkin saja ini bisa sedikit meringankan bebannya. Ya, pastinya pedih sekali menghadapi kenyataan dikhianati oleh orang yang kita cintai, meski itu terjadi pada perempuan setegar Itie. Itie balas memelukku erat. Kupejamkan mata. Ahhh…rasanya nyaman sekali. Apakah ini yang dimaksud oleh slogan ‘That’s what friend is for’? atau ‘Give shoulder to cry on’? Tapi, betulkah begitu maksudnya?? “Tie, maaf baru bisa balikin tabloidmu sek…” terdengar suara Alissa yang tercekat. “Upss…Sorry…” ucapnya pelan, Itie tersentak dan melepaskan pagutan bibirnya dari bibirku.
Sudah kubilang, aku hanya ingin bisa mencintai dan dicintai oleh seseorang secara sederhana…
Pemberitahuan dari FSPPB tentang Penipuan lewat SMS
Tuesday, June 26th, 2007Terima Kasih. Maaf. Selamat Tinggal
Monday, June 25th, 2007
Siang itu cukup terik. Ya, beberapa waktu belakangan ini cuaca ibukota memang sulit untuk ditebak. Mudah berubah dengan sangat drastis.
Saya terburu-buru menaiki kendaraan umum yang berhenti di hadapan saya, tidak terlalu padat. Ikatan dasi saya longgarkan, untuk sekedar memperlancar aliran darah di bagian leher saya.
Saya duduk di bagian depan. Kondektur mulai menagihkan ongkos. Damn, saya tidak membawa uang kecil. Yang ada hanya beberapa lembar uang 50 ribuan yang memang baru saya ambil dari ATM. Kondektur jelas menolak uang saya karena memang tidak ada kembaliannya. Saya bingung.
Penumpang di samping saya memahami kondisi saya. Segera saja uang Rp 1.500 keluar dari kantong kemejanya, dan dibayarkan. Saya sempat terdiam, untuk selanjutnya tersadar dan mengucapkan terima kasih.
Dunia masih ada orang baik, yang mau memberikan sesuatu ikhlas dan tanpa pamrih, walau untuk orang yang tidak dikenalnya.
Terima kasih Mas Syaichu.
*****
Saya kurang beruntung karena tidak mendapatkan tempat duduk di bis yang saya tumpangi. Tapi saya tidak sendiri.
Bis berjalan dengan cukup kencang, di jalan yang cukup ramai ini. Tangan saya masih bisa meraih pegangan tangan yang tergantung, tetapi tidak demikian halnya dengan seorang perempuan di samping saya. Dengan keras ia berusaha untuk mempertahankan posisi berdirinya agar stabil.
Bis berhenti mendadak, dan tak bisa dihindari, perempuan tersebut sedikit tersuruk, ke arah saya, ia menginjak sepatu saya.
Berkali-kali kata maaf diucapkan, saya tersenyum dan bisa memaklumi kondisi tersebut.
Maaf, salah satu kata yang kadang teramat sulit untuk diucapkan.
*****
7 tahun dan saya harus memutuskan untuk berhenti. Bukan perkara mudah, apalagi karakter saya telah terbentuk dan banyak hal yang membuat saya kerasan dengan kondisi saat ini.
Memang kondisi perlahan namun pasti bisa berubah. Ibarat burung, mungkin saya telah memasuki tahap untuk membentangkan sayap, menjelajahi angkasa yang terbentang sangat luas. Meninggalkan, tetapi tidak melupakan banyak hal yang saya sayangi.
God, they’re all really love and care about me.
Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi.
mengenal PCR
Friday, June 22nd, 2007Dewasa ini sering kita dengar istilah PCR dalam bidang budidaya ikan khususnya dalam budidaya udang. Salah satu kegunaan PCR adalah semakin dipercaya peranannya terutama untuk menganalisa patogen yang sering menghambat bidang akuakultur. Berkembangnya bioteknologi ini memungkinkan bagi pelaku akuakultur untuk memanfaatkan PCR sehingga dapat menambah efisiensi usahanya. Pada artikel ini, penulis mencoba mengenalkan konsep PCR dan kegunaannya.
Tunggu Tanggal Mainnya!
Wednesday, June 20th, 2007
Tunggu tanggal mainnya ![]()
Probiotik dan efisiensi pakan pada ikan
Friday, June 15th, 2007Salah satu pembaca blog akuakultur.wordpress.com menanyakan tentang mekanisme kerja probiotik dalam lingkungan perairan dan pada tubuh ikan dan bagaimana probiotik tersebut sampai dapat menimbulkan efisiensi pakan.
Ulang Tahun ke 3 Id-Gmail
Thursday, June 14th, 2007Sinergi Infrastuktur Telkom dan Telkomsel
Wednesday, June 13th, 2007Detik — Telkom dan Telkomsel akan mensinergikan infrastruktur untuk semua layanan, mulai dari telepon tetap kabel, nirkabel, dan seluler demi menghemat belanja modal 20-30 persen. Direktur Utama Telkom Rinaldy Firmansyah, mengatakan sinergi ini sudah mulai berjalan. Ditargetkan sampai akhir 2007 seluruh jaringan yang dimiliki Telkom dan anak perusahaannya Telkomsel dapat dioptimalisasi hingga 95 persen.
Sementara itu Direktur Network Services Telkom, I Nyoman G. Wiratnyana mengatakan, 50% dari seluruh BTS Telkom telah digunakan untuk jaringan Telkomsel, tapi baru 8% jaringan yang dimiliki Telkomsel yang dipakai oleh Flexi. “Ke depan, kita akan mengintegrasikan network dalam satu core berbasis IP. Jadi nanti integrasinya di jaringan metro access,” kata Nyoman. “Secara fisik itu menggunakan fiber optik, namun secara teknologi nantinya berbasis IP bukan TDM lagi,” paparnya.
Sinergi layanan dalam satu jaringan ini diharapkan akan memicu produktivitas. Penyatuan kapasitas jaringan akan menyebabkan bandwidth jadi lebih murah secara eksponensial, tidak linier. Konsep ini juga diharapkan akan sinergis dengan konsep Palapa Ring.
Toilet
Friday, June 8th, 2007
Setiap pagi, di kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk ke toilet. Sebuah ruangan berukuran 3 x 5 m, dengan 3 buah kloset dan 4 buah urinator. Tak ketinggalan sebuah cermin berukuran 90 cm x 2 meter.
Saya butuh toilet. Saat saya harus mengeluarkan hasil eksresi dan juga defekasi. Atau sekedar merapihkan dasi, dan membersihkan muka. Tak ketinggalan saat saya membersihkan mulut setelah makan.
Saya tidak pernah memandang toilet dengan sebelah mata. Kegunaannya semakin hari semakin bertambah. Tidak hanya aktifitas yang telah saya sebutkan, belakangan toilet menjadi tempat saya untuk sekedar melepaskan penat dan lelah. Dan yang tak kalah menariknya, toilet menjadi tempat untuk bertukar cerita, mulai dari pekerjaan, pribadi, olahraga, bahkan rumor sekalipun. Saya semakin senang datang ke toilet.
Buat saya, toilet merupakan saksi perjalanan kehidupan saya, di dunia kerja tentunya. Bagaimana tidak, selama lebih dari 7 tahun, saya mendatangi tempat yang sama. Dengan tata letak, warna, dan juga merk-merk kebutuhan toilettris yang sama. Hanya pengunjungnya saja yang cenderung berganti. Di toilet saya pernah mendapati sahabat saya terjatuh dan berlumuran darah. Saya juga pernah terduduk, menangis, karena kondisi fisik yang tak kunjung membaik. Atau saya juga pernah harus beberapa kali muntah karena tekanan psikologis yang teramat dahsyat. Ya, toilet ….
Toilet buat saya adalah sebuah tempat yang memiliki arti dan makna tersendiri. Tempat dimana saya melihat rentetan kehidupan saya. Tempat saya bercermin dalam arti sebenarnya. Tempat saya melepas beban, tempat saya …….
Maaf saya harus ke toilet
Rumah Untuk Bram
Friday, June 8th, 2007
Pritha Khalida
Tak pernah jemu aku memandangi rupaku di cermin. Gagah. Tampan. Semua pasti jatuh cinta padaku.
Hmmmmhhh…aku menggeliat lagi untuk kesekian kalinya. Pendingin ruangan sudah dimatikan. Itu artinya Mbak Inah sudah masuk dan membersihkan kamarku sewaktu aku masih terlelap, entah jam berapa itu. Kulirik meja kecil di samping tempat tidurku. Sudah ada susu di situ. Kuseruput perlahan… Masih hangat, sedapnyaa…
“Bram, Mama pergi dulu yaa…” semerbak parfum Mama mampir di hidungku, saat beliau menciumku. Mama memang selalu wangi. Tak peduli itu pagi atau malam, mama selalu terlihat cantik di mataku.
Di teras aku duduk di kursi yang terbuat dari anyaman rotan, menikmati suasana pagi. Heuh! Masih pagi saja Jakarta sudah panas. Kucoba hembuskan nafas melalui mulut. Jangankan uap yang terlihat – seperti saat aku masih tinggal di Bandung, ini sih yang ada bau mulutku saja yang menambah polusi.
Aku mau keluar saja. Yaa, mudah-mudahan saja gadis-gadis metropolitan cantik-cantik meskipun masih pagi. Konon katanya, mereka hanya cantik menjelang siang saja – saat make up sudah menutupi seluruh wajah. Dan kembali terlihat kusam saat malam menjelang.
Segala rupa kesibukan terlihat di sekitar rumahku. Mulai dari tukang sayur yang berteriak-teriak menjajakan dagangannya, para pembantu yang sibuk memanggili tukang sayur, sopir-sopir yang memanaskan mobil majikannya (dan terkadang menyempatkan diri bergaya seolah itu mobil mereka, hihihi…).
“Udah dibilang aku hari ini enggak mau sekolah! Kenapa sih tiap hari aku harus sekolah? Bosan tauuu!” bentak seorang anak pada perempuan yang sedang berusaha keras memakaikan sepatu di kakinya.
“Tapi Cathy harus sekolah. Kalau enggak, nanti mbak Lili dimarahi mama. Yaa, sekolah yaa sayang?” ucapnya lembut penuh harap.
“Mbak Lili aja yang sekolah. Aku cuma mau sekolah, kalo di sana udah ada play station sama Barbie. Ngerti?!” anak itu berbalik masuk ke rumah dengan muka yang ditekuk, rambut yang acak-acakan, dan sepatu yang baru terpasang sebelah. Perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan Mbak Lili itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Seperti latah, aku ikut-ikutan menggelengkan kepala mengikuti Mbak Lili. Huh! Dasar anak tidak tahu bersyukur! Hari gini nggak mau sekolah cuma karena nggak ada mainan di sekolahnya? Gila apa!? Sementara di luar sana ribuan anak putus sekolah karena nggak ada biaya, terkena bencana, atau lebih parah lagi…terkena busung lapar! Andai dia pernah lihat billboard iklan layanan masyarakat yang menggambarkan seorang anak membaca buku di anatra tumpukan sampah – dan menganggapnya sebagai ruang kelas. Hmm, atau mungkin dia sering melihatnya, tapi tak mengerti. Ahh ya sudahlah, apa pula urusannya buatku.
Lelah berjalan, aku menghentikan langkah di dekat pos satpam. Ada tukang bubur ayam di situ. Mungkin aku mau pesan saja satu mangkok. Bersih tidak yaa? Mama selalu berpesan agar aku tidak jajan di sembarang tempat. Tapi jika jajanan itu mampu meneteskan air liurku, biasanya kulanggar saja pesan beliau. Dan hal yang sama terjadi setelah aku melihat tukang bubur ayam ini.
Saat menikmati bubur ayam, kurasakan beberapa mata tertuju padaku. Ada yang tersenyum, ada pula yang hanya melihat sekilas. Beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik, sambil tetap menatapku. Duhh, aku jadi salah tingkah. Memang di sini tak ada yang seganteng aku yaa?? Aku membalas senyuman mereka dengan malu-malu.
Matahari mulai meninggi. Aku harus pulang sekarang. Hmmh, pastinya menyenangkan kembali masuk kamar dan menikmati sejuknya pendingin. Ya, aku tahu kalau kebanyakan berada di ruangan ber-AC tidak baik untuk kesehatan kulit. Tapi setidaknya lebih baik daripada menghirup bau dari selokan besar di sini.
Tapi tunggu dulu! Heyy! Rasanya pas pulang tadi aku tidak menemukan selokan besar begini. Haduhh, di mana aku yaa? Lalu, kemana jalan pulang? Baguss, aku tersesat! Begini nih kalau sok tahu jalan-jalan sendiri di daerah baru.
Kucoba untuk terus berjalan sambil berusaha mengingat-ingat jalan menuju rumahku. Sial! Kenapa aku begitu bodoh sih untuk tidak mengingat tanda apa saja yang kulalui sepanjang jalan tadi??
Nihil. Aku tetap tak ingat. Bahkan mungkin sekarang ini aku sudah semakin jauh tersesat dari rumahku. Oh tidaaak! Satu minggu di Jakarta, dan aku tersesat tanpa membawa apa-apa! Bagaimana kalau terciduk petugas Pamong Praja seperti yang sering terlihat di Alun-Alun Bandung? Aku pasti akan disatukan dengan para pedagang kaki lima di bagian belakang mobil, persis seperti pesakitan. Tuhan, tunjukkan aku jalan menuju rumah. Aku memejamkan mata, memohon perlindungan-NYA.
Sayup-sayup terdengar suara adzan di mesjid. Apakah aku harus kesana dulu? Memohon padaNYA agar Dia sudi kiranya menuntunku pulang… Ah, tapi badanku tak bersih, penuh keringat di mana-mana. Masa iya menghadap Yang Maha Pencipta dengan tubuh kumal??
“Aduhh!”
“Ehh…ma…maaf…maaf ya neng, aku gak sengaja.” Bodoh! Saking bingungnya, aku sampai menabrak perempuan.
“Ya sudah nggak apa-apa. Huh enak aja panggil neng! Namaku Mona, tau!” makinya galak.
“Iy…iya, Mona. Maaf yaa. Betul, aku nggak sengaja.”
“Makanya kalo jalan liat-liat. Linglung sih!” katanya lagi, masih dalam nada yang nggak menyenangkan. Busyet! Cewek Jakarta galak amat??
Mona membersihkan tubuhnya yang kotor. Aku memerhatikannya dengan seksama. Hmm, cantik juga yaa? Padahal dia sepertinya bukan perempuan pesolek. Tapi tetap saja cantik. Bahkan bibirnya yang dimonyongkan pun tak mengurangi kecantikannya.
“Apa liat-liat?”
“Mau kemana?”
“Apa urusanmu?”
“Aku mau pulang.”
“Pulang saja.”
“Aku tak ingat jalan pulang.”
Kali ini gadis itu menengokku,
“Kau…kau…”
Aku mengangguk sekuat mungkin. Pasti ia mengira aku tersesat dan ingin diantar.
“Kau amnesia? Habis dipukul preman yaa?”
Glekk!
“Tidak, aku sehat. Namaku Bram. Aku orang baru di sini. Baru satu minggu. Tadi pagi aku iseng jalan-jalan, eh nggak taunya tersesat begini.”
Mona menatapku dari ujung telinga sampai ujung kuku kaki. Pandangannya setengah iba setengah curiga. Mungkin dipikirnya aku penipu, yang akan menyergap dan memerkosanya begitu sampai di tempat sepi. Huh sialan! Aku laki-laki baik-baik ya, asal tahu saja! Kalau kau berhasil menemukan rumahku, akan kuajak kau masuk dan sekalian kuperkanalkan pada Mama, kalau dia sudah pulang tentu saja!
“Rumahmu di mana?”
“Jalan Mangga tiga belas.”
“Ikuti aku.”
“Kemana?”
“Ke rumahmu tentu saja. Mau kemana lagi?” jawabnya judes.
ASYIK! Hatiku bersorak kegirangan.
“Awas yaa kalau macam-macam. Di sini daerah kekuasaanku tau!”
Hyaa ampun, masih tetap galak?? Ikhlas nggak sih dia ngantar aku pulang? Ah, tapi aku diam saja. Mencoba menjadi pengikut yang baik.
Mona banyak mengambil jalan pintas yang sama sekali tak kulihat tadi di perjalanan pergi. Dia lebih memilih melewati gang sempit dan pinggiran kali ketimbang jalan kompleks.
“Kenapa berhenti?” tanyaku heran, ketika Mona menghentikan langkahnya di dekat sebuah rumah kumuh di pinggir kali.
“Itu rumahku.” Katanya cuek.
Hampir aku bergidik jijik, andai tak ingat bahwa Mona adalah dewi penolongku kali ini. Syukurlah, aku masih bisa bersikap sopan dan tahu diri.
“Kapan-kapan aku boleh main?”
“Boleh saja, kalau tak takut kena bakteri.” Jawabnya cuek, seakan bisa membaca pikiranku.
Kami terus berjalan.
“Ini kan rumahmu?”
Kutegakkan kepala. Ya benar! Wuihh hebatt! Ia memang layak disebut penguasa di daerah ini. Hafal jalan, seperti sopir taksi saja.
“Mampir yuk…” ajakku.
Mona menatap matahari yang sudah mulai berwarna oranye.
“Baiklah, sebentar saja yaa…”
Kami mengobrol di kursi rotan terasku yang nyaman. Di situlah aku mulai mengenal Mona lebih jauh. Ia banyak bercerita tentang asal-usulnya. Bahwa ia tinggal bersama adik-adiknya di rumah kumuh tadi. Mona sudah tidak memiliki ayah sejak lahir. Ibunya pergi saat ia masih kecil, dan tak pernah kembali. Jadilah ia dan adik-adiknya harus berjuang menghidupi diri, terkadang dibantu oleh tetangga.
“Makanya aku kurus kering begini. Nggak kayak kamu.” Katanya sambil tersenyum. Ohh, cantiknyaaa…
“Bram…Bram…Hallooo…”
“Oh eh iya?”
“Jangan melamun, ah. Masih banyak hal berguna lain yang bisa kau lakukan selain itu.”
Mona melihat ke sekeliling.
“Rumahmu asri sekali yaa? Pasti menyenangkan tinggal di sini. Apa-apa sudah tersedia. Kau tak perlu lagi seperti aku repot-repot mengais tumpukan sampah untuk mendapatkan sesuap nasi.”
Oh Tuhan, separah itukah keadaannya? Sampai harus mengais-ngais tumpukan sampah?? Aku iba padanya.
“Hey! Kenapa melamun lagi?? Sudah, nggak usah ngeliatin aku kasian gitu dong. Aku udah biasa, kok. Udah ah, pulang dulu yaa…” pamitnya.
Aku mengantar Mona sampai pagar. Malu juga sihh, dimana ada cowok gentle membiarkan cewek pulang sendiri?! Tapi, daripada nyasar lagi malah bikin repot…
“Besok kesini lagi ya?” harapku.
“Kusempatkan. Daagh Bram…”
Mataku mengantarkannya hingga membelok di ujung jalan sana.
“Bram, lagi apa di luar? Haduuuhh, kok kumal begitu sih? Kayak gembel kamu!” tiba-tiba saja Mama sudah ada di belakangku dan memandangku dengan jijik. Baiklah, aku akan mandi…Meski malas.
Besoknya pagi-pagi sekali aku sudah rapi. Akan kutunggu Mona di depan pagar. Siapa tahu ia mau mengajakku jalan-jalan lagi hari ini. Yaa, minimal mengobrol juga tak apa-apa. Aku suka sekali mendengar celotehannya. Tak hanya celotehan, aku juga suka melihatnya memonyongkan bibir, melihat muka judesnya…Ah, pokoknya aku suka semua kalau itu tentang Mona!!
Ya, aku telah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Mona. Ooohhh, secepat itukah ibukota memberiku cinta?? Aku bahkan tak peduli dari mana Mona berasal. Aku tak peduli meski Mona bukan perempuan yang rapi, wangi, dan penuh riasan mahal seperti Mama. Aku suka Mona, apa adanya. Betul cinta itu buta, kawan!
“Kita mau kemana?” tanyaku bersemangat. Ya, Mona menepati janjinya untuk datang ke rumahku.
“Terserah kau saja.” Ujarnya sambil menggigiti kukunya. Heuh! Kalau aku yang begitu dan terlihat oleh Mama, pasti beliau akan memarahiku. Jorok katanya. Tapi kalau yang melakukannya Mona, kok kelihatannya lucu yaa??
Mona memutuskan mengajakku ke Monas. Katanya biar aku tak penasaran. Masa iya tinggal di Jakarta tapi tak tahu Monas. Ya sudah aku menurut saja. Kami berjalan kaki kesana. Catat yaa, jalan kaki! Mona bilang, CUMA lima kilometer, hitung-hitung olahraga pagi. Ohh, mudah-mudahan betisku tak meletus!
Kami berjalan beriringan. Lagi-lagi beberapa mata memandangiku, seperti di tukang bubur kemarin. Tapi kali ini lain. Pandangan mereka rasanya tak mengenakkan. Kenapa yaa??
“Kau tak malu berjalan denganku?” tanya Mona membuka percakapan.
Aku yang mulai ngos-ngosan memandangnya,
“Memang kenapa?”
“Lihat dirimu, begitu tampan, rapi, dan wangi. Aku? Kumal dan…mmh…bau.”
“Tapi begitu saja kau cantik.” Ucapku, jujur dari hati.
“Gombal!” tapi tak urung pipi Mona bersemu merah. Dan ia tambah cantikkk saja!
BYUUURRR….
Sebuah mobil melintas di genangan air, yang langsung saja mengotori tubuhku. Rasanya ingin aku memaki sopirnya. Punya mata nggak sih dia??? Tapi Mona malah tertawa-tawa.
“Menyukuriku ya?”
“Kau..kkaau, huahaaahhaaaa…..”
“Puas betul sih?”
“Lihat dirimu, Bram.” Katanya. Kuturuti.
“Sekarang lihat aku.” Pintanya. Kuturuti jug…Ah yaa sekarang aku mengerti.
“Kita sama-sama kumal sekarang. Ternyata dalam keadaan begini, kau tidak terlalu ganteng deh.” Ucapnya.
“Jadi, sekarang kau malu jalan denganku?”
Mona menggeleng.
“Aku justru senang, karena kalau begini aku jadi terlihat seperti bidadari di sampingmu. Tidak seperti tadi, puteri buruk rupa.” Ucapnya pelan. Tanpa sadar aku mengelus kepalanya.
Menjelang sore kami pulang. Aku sekarang sudah tahu Monas, lho! Bukan hanya lewat, tapi duduk-duduk dan lomba lari dengan Mona di bawah bayangannya.
“Mona, itu Mama lagi duduk di teras. Ayo masuk, kukenalkan kau padanya.” Ajakku dari luar pagar. Mona terlihat sungkan, tapi kupaksa.
Mona memberi salam pada Mama. Mama yang sedang membaca majalah, membalas salamnya dengan dingin. Ia tak berkata apa-apa. Ya! Mama bahkan tak sempat menanyakan nama Mona, setelah… setelah ia menatap Mona lekat-lekat keseluruhan tubuhnya. Merasa kehadirannya tak diinginkan, Mona berpamitan. Ia pun melarangku mengantarnya sampai pagar. Mona berjalan pulang. Lunglai.
“Aduuh, bergaul sama perempuan kampung gitu bikin kamu kotor, Bram. Kenapa sih kamu nggak cari pacar yang sepadan? Jadi, mata mama enak ngeliatnya juga.” santai saja kalimat itu terucap dari mulut Mama ketika ia mengambil botol air minum di kulkas. Ya, santai! Seolah-olah dia lagi bilang bahwa rumput di halaman sudah tinggi. Tanpa nada bersalah atau sungkan.
Ingin rasanya aku bilang bahwa meski demikian Mona itu perempuan mandiri, hebat, dan segudang kebaikan lainnya. Tapi entah kenapa kalimat-kalimat itu tertahan di tenggorokanku. Ah, paling juga Mama nggak akan peduli. Aku pun melangkah gontai ke kamarku. Kuambil remote, menyalakan AC. Kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk. Aku bahkan tak berpikiran untuk mandi dulu. Biar saja, semua keringatku hari ini mengingatkanku pada Mona. Sepuluh kilometer kutempuh untuk bersamanya. Aku tak ingin semuanya hilang begitu saja dengan setetes sabun mandi dan air dari shower.
Minggu pagi. Aku sudah berniat jalan-jalan lagi sama Mona. Pasti menyenangkan!
Tapi, lho kok?! Pintu depan terkunci rapat. Aku mencari kuncinya di buffet, biasanya disimpan di situ kalau malam. Tidak ada. Di meja makan, juga tidak ada. Apa di kamar Mama? Belum sempat aku berjalanmenuju kamar Mama,
“Hari ini kau tak boleh keluar, Bram. Apalagi kalau sama perempuan kampung itu.” Ucap Mama dingin.
Oh, tidakk! Kenapa??
Seolah dapat membaca pikiranku, Mamam menyambung ucapannya,
“Mama nggak suka sama dia. Ayo, temani Mama masak aja lah. Hari ini Mama mau bikin gurame bakar kesukaanmu.” Mama memasang celemeknya.
Oooh, aku amat merindukan gurame bakar buatan Mama. Rasanya lezaaaat sekali! Tapi, ah tidak…Mona pasti menungguku di luar sana. Kemarin aku janji hari ini mau ke rumahnya. Semacam kunjungan balasan begitulah.
Tak sampai lima menit aku sudah berada di depan jendela kamarku. Senyumku terkembang. Betapa gampangnya melompat ke tembok pembatas rumah dari atas balkon. Daah Mama, aku mau kencan dulu yaa…sama pujaan hatikuuu…
Kutunggu di depan pagar sampai lama, Mona tak juga datang. Daripada betisku varises karena kebanyakan berdiri, akhirnya kuputuskan ke rumahnya saja, toh aku sudah hafal jalannya.
Tak lama kemudian, aku sudah tiba di rumah Mona yang amat sangat sederhana. Jangankan AC, kursi saja tak ada. Mona mempersilakanku masuk. Rupanya ia sedang makan dengan ketiga adiknya. Sederhana saja, nasi bungkus.
Mona mengacuhkanku. Aku tahu, pasti ia masih sedih atas penolakan Mama kemarin. Ohh Mona, cantik…maafkan aku yaa…
Perutku keroncongan. Belum makan dari pagi. Aku kembali teringat gurame bakar buatan Mama. Mungkin sekarang sudah siap, dan Mama sedang sibuk mencariku. Apakah tindakan kaburku tepat? Ohh, aku lapar sekaliii…
“Nih makan dulu sebelum kau pingsan.” Mona tiba-tiba saja sudah berada di depanku, mengangsurkan sebuah bungkusan. Tanpa pikir panjang, kuhabiskan isinya sampai tandas. Mona tersenyum melihatku. Aku malu juga sih. Tapi, tak apalah daripada aku mati kelaparan??
“Mona, maafkan aku yaa?”
“Apa salahmu?”
“Kemarin…Mama…”
“Ah sudahlah tak usah dipikirkan. Salahku juga sih, kemarin aku kumal. Coba kalau aku mau sedikit bersolek…”
“Begitupun kau cantik.”
“Tapi tidak begitu di mata Mamamu.”
Kami menghabiskan siang dengan mengobrol di rumah Mona. Sesekali juga bercanda dengan adik-adiknya. Ada suasana yang belum pernah kuarasakan sebelumnya. Apa yaa namanya? Kebersamaan…yang hangat di tengah-tengah mereka. Atau kehangatan yang datang dari kebersamaanku dengan Mona? Entahlah, sulit untuk digambarkan. Ada keakraban yang muncul begitu saja saat adiknya Mona mengajakku bermain.
Hmmh…rasanya aku sudah lama mengenal mereka semua. Rasanya menyenangkan. aku diterima dengan menjadi diriku sendiri. tanpa dipedulikan apakah aku punya rumah besar atau tidak. Aku merasa…DICINTAI.
“Sudah sore, pulang gih. Nanti dicari Mama.” Ucap Mona. Aku masih asyik bermain dengan adiknya.
“Bram, pulang. Tidak usah kuantar kan?”
Aku menggeleng.
“Sudah hafal jalan, hebat.”
Aku menggeleng lagi.
“Ngomong dong, jangan cuma geleng-geleng aja. Kau tidak mendadak bisu, kan?”
Lagi-lagi aku menggeleng.
“Braaam!” Mona mulai kesal. Tak apa, aku suka memandangi marahnya yang cantik.
“Sssttt…jangan mengusirku yaa?? Aku mohon…” pintaku memelas.
“Lalu?”
“Izinkan aku tinggal di sini. Di rumahmu.”
“HAAH?!”
“Aku takkan merepotkanmu, janji!”
Mona diam saja. Aku menganggapnya sebagai tanda setuju. Tak lama Mona menunduk, tersenyum. Ia berlari keluar, diikuti adik-adiknya, tak ketinggalan diriku.
Kini, kami berlima sedang berdiri di atas jembatan yang tinggi. Memandang ke bawah, rumah Mona. Aku tersenyum, merasa gagah sebagai satu-satunya laki-laki di antara mereka.
Kembali kulihat mata orang-orang yang lewat memandangi kami. Aku tak peduli sekarang. Tanganku meraih kepala Mona agar bersandar padaku. Mona menurut. Kali ini tanpa sungkan.
Sore itu jembatan macet, seperti biasanya. Seorang anak membuka kaca mobilnya dan memandangku lekat.
“Mama, aku mau kucing angora gendut itu!”
“Ihh, kumal gitu! Paling juga kucing garong, bukan angora! Cepat tutup kacanya, bau kali tauuu!!!”
Kaca ditutup. Aku menatap Mona dengan mesra. Menggosok-gosokkan telingaku ke lehernya.
“Meoooonnggg….”
Dunia
Sunday, June 3rd, 2007
Rekor saya terpecahkan. Hampir 2 bulan tidak melakukan aktifitas apapun dengan blog ini. Hmmm, saya merasa putus asa, dan kecewa tentunya.
Kecewa dengan ketidakdisiplinan saya untuk “sekedar” menggurat rangkaian kata. Putus asa karena berusaha mencari “semangat” yang entah terserak dimana.
Beberapa waktu ini memang banyak hal yang terjadi. Hitam dan putih, silih berganti. Saya tersudut, dan entahlah.
Liburan panjang ini, saya tidak melakukan apa-apa. Segudang ide dan sebuah laptop tak mampu menggerakkan keinginan saya. Damn !.
Saya berusaha mengurai kembali alasan saya ada di “dunia” ini. Berbagi. Dan sungguh tragis, tak ada lagi yang saya beri dengan “dunia” saya itu untuk beberapa lama.
Saya tak mau meninggalkan “dunia” ini. “Dunia” ini begitu indah. Begitu berarti untuk saya. Beri saya waktu, dan saya akan kembali ke “dunia” ini.
Tunggu aku, “duniaku”.