Archive for March, 2007

Aku Bukan Kak Tami, Bu…

Tuesday, March 27th, 2007

 

Pritha Khalida

 

Aduhh jam segini baru pulang?! Kamu keluyuran kemana aja sih, Bel?”

Biasa Bu, latihan band. Kan tadi aku udah sms. Emang nggak sampe?”

Iya, tapi kira-kira dong. Masa latihan band aja sampe jauh malam begini? Nggak bagus ah anak perempuan pulang malam. Apa kata tetangga nanti?” tanpa mengalihkan pandangan dari tabloid yang dibacanya, ibu menasehatiku.

Iya Bu, maaf. Kan nggak tiap minggu gini. Tadi tuh lama soalnya persiapan buat perpisahan seminggu lagi.” Aku menjelaskan sebisa mungkin.

Yaa, nggak perlu mengorbankan waktu malam kan bisa? Carilah waktu siang di hari minggu misalnya. Lihat tuh kakakmu, dia nggak pernah sekali pun pulang malam, meski sudah kuliah. Padahal mungkin acara di kampusnya juga padat. Tapi dia selalu bisa mengatur waktunya dengan baik.” Kali ini ibu mulai melipat tabloid gosip yang bercover artis cantik Tamara Bleszinsky itu, dan menoleh pada kakakku.

Hhhh…ini adalah bagian yang paling tidak aku sukai, saat ibu mulai membandingkan aku dengan kak Tami. Namun entah karena tak peka atau tak mau peduli, ibu selalu saja mengulanginya. Membandingkan kerajinan kami, prestasi akademik, ke-feminin-an, keramahan, dan lain sebagainya. Seolah-olah kak Tami adalah sosok malaikat yang diturunkan Tuhan ke muka bumi, sementara aku adalah itik buruk rupa yang nggak sengaja dilahirkannya.

Air hangat dari shower mengaliri tubuh letihku, mulai ujung rambut sampai ujung jempol kaki. Ahh…nyaman sekali rasanya. Seluruh kepenatanku terkikis sedikit demi sedikit. Nilai ulangan yang jeblok (huh, siapa suruh ulangan dadakan?!), panitia perpisahan yang rese, sampai acara mati lampu yang bikin latihan band jadi molor waktunya.

Setelah mandi, aku kembali ke bawah, mengambil makan malamku, dan membawanya ke ruang tengah.

Nonton apa sih, Bu? Kaya yang nggak rame. Pindahin aja ya?” aku duduk bersila di karpet, sambil meletakkan piringku di atas meja.

Eh jangan, ini episode terakhir! Lagi seru, tau!” Kak Tami mendahuluiku memegang remote. Dasar cewek sinetron. Aku tak mengacuhkannya, dan mulai menikmati makananku. Tapi, baru saja menjelang suapan pertama,

Aduhh Bella! Masa makan di sini sih?! Nanti berantakan, kan bisa banyak semut. Udah gitu, ya ampuuun anak perempuan duduknya kok kaya tukang becak gitu? Sana ah!” omel ibu.

Yaa, skali-skali kan nggak papa, Bu. Aku males di ruang makan sendiri, dipelototin gitu sama si Item, kan nakutin.” Item adalah nama burung beo kami, yang setiap malam kandangnya dimasukkan ke dalam rumah dan digantungkan di ruang makan. Tapi ibu nggak peduli, beliau tetap aja berpendapat bahwa yang namanya makan itu udah dari sananya mesti di ruang makan, dan bukan ruang keluarga. Ok, aku ngalah. Nggak guna juga ngedebat ibu, ujung-ujungnya aku pasti kalah.

Huuh adikmu itu kapan bisa disiplin, ya Tam? Perasaan kamu waktu seumurnya dulu, nggak begitu susah deh dinasehatinnya. Cepet ngerti, nurut lagi. Nggak serampangan kayak dia.” Keluh ibu terdengar samara-samar di telingaku.

Ahh emang anaknya aja gitu, SULIT.” Kak Tami menegaskan kalimatnya.

Sulit dengkulmu! Ergh! Jangan-jangan aku anak pungut ya? Kenapa setiap dibanding-bandingkan, aku slalu aja jadi bagian bernilai minus, sementara Kak Tami plus. Kak Tami yang disiplin, penurut…bla bla bla…Bikin bosen aja.

Sama bosennya aku dengan hukuman-hukuman yang seringkali diberikan ibu untukku. Alasannya, karena aku sering melanggar aturan. Oya, biar aku kasih tau nih, kalau di rumahku yang namanya reward & punishment principal itu benar-benar ditegakkan secara langsung. Artinya, anggota keluarga yang selalu menaati peraturan tak tertulisnya Ibu, akan dapat hadiah berupa pengurangan tugas rutin. Dan tentu sebaliknya, si pelanggar yang mengerjakan tugas tersebut. Seperti yang kalian duga, kak Tami sering sekali mendapatkan hadiah itu. Sementara aku-si Itik buruk rupalah, yang menjadi ‘cinderella’. Ada saja kelakuanku yang dinilai tidak baik oleh ibu. Lain halnya dengan Kak Tami. Jika ia melakukan kesalahan, ibu selalu menganggapnya nggak sengaja. Nggak adil banget!

Itu pula yang pada akhirnya bikin Kak Tami makin manja tiap harinya. Apa-apa nyuruh aku. Dia sih kerjanya Cuma makan, nonton tivi, ngerumpi di telpon, dan menghabiskan sebagian besar waktunya tiduran di kamar. Dasar ulat kasur! Itu julukanku untuknya. Ia tahu, tapi tak peduli.

*

Suatu hari kami dikejutkan oleh teriakan kak Tami dari teras.

Buuuuuu!!! Beeeeeeel!!! Buka pintu dooooong!!!”

Ibu berlari tergopoh-gopoh seolah mendengar teriakan anak batita yang terjatuh saat belajar jalan. Padahal Kak Tami memang selalu begitu. Heboh kalau minta dibukakan pintu. Selang beberapa detik kemudian,

Bel, lihat nih kakakmu dapat juara pertama Model Competition…” ibu kembali sambil membawa sebuah kertas, mungkin piagam penghargaan. Aku bergeming, tetap menonton tivi. Bagiku, berita mengenai korban gempa dan tsunami lebih penting daripada juara model competition. Yahh, bisa jadi juga karena aku sudah bosan mendengar kebaikan mengenai kak Tami. Aku iri? Tentu saja! Kupikir gila jika ada anak yang tak menginginkan pujian dari ibunya, sementara setiap detik dalam hidupnya selalu mendengar si ibu memuji saudaranya.

Jadi, aku bakalan maju ke babak final minggu depan!” ujar kak Tami bangga, sambil meneguk air es nya cepat-cepat.

Ati-ati Kak keselek. Minum tuh sambil duduk, bisa nggak sih?” ujarku sinis, sambil menirukan gaya ibu jika sedang menasehatiku tata krama.

Anak kecil bawel amat sih. Sorry ya, Bu. Aku capek banget soalnya.” Rajuk Kak Tami.

Ya sudah, nggak papa.” Jawab ibu sabar.

Hah? Apa Bu?? Nggak papa???” sungutku kesal.

Bukannya kalau aku yang begitu, bisa langsung disuruh strika semua baju Kak Tami? Kenapa kali ini ibu nggak suruh dia strika semua bajuku?!”

Bella, liat nggak sih keadaannya kan beda. Tami capek, baru pulang. Sementara kamu, stiap hari begitu…” kalimat itu diikuti oleh cibiran Kak Tami.

Aaah, ibu nggak adil! Mentang-mentang Kak Tami anak kesayangan ibu, lantas selalu dibela.” Kesal…kutinggalkan keduanya menuju kamar. Kututup rapat-rapat dan kukunci pintu kamarku. Air mata mulai menggenangi kedua pipiku yang kata orang-orang kulitnya katanya nggak seputih kulit wajah Kak Tami. Mungkin nggak bakalan pernah sama, bahkan jika aku memakai krim pemutih sepuluh tube sekaligus juga.

Selalu Kak Tami…Kak Tami…dan Kak Tami…Tuhan, manusiakah Kak Tami? Mengapa ia seolah demikian sempurna di mata Ibu? Berulang kali pertanyaan itu muncul di benakku. Namun sampai kini Tuhan belum memberikan jawaban. Kak Tami tetap saja menjadi malaikat untuk ibu. Dimana aku harus mencontoh semua sikap dan perilakunya.

*

Jadi, kamu nggak akan ikut, Tam?”

Lho Bu, besok aku ada kuiz Makro jam tujuh pagi. Dosennya killer banget! Nilai kuiz bobotnya tinggi. Salam aja buat Tante Wien dan Om Hendra.” Ujarnya santai. Tante Wien adalah adik ipar ayah yang baru saja melahirkan. Mereka tinggal di Jakarta. Dan pagi ini, rencananya kami akan menjenguknya.

Sebentar aja, Tam. Siang atau sorean juga udah balik lagi. Bandung-Jakarta kan cuma sebentar sekarang ini.”

Aduhh Bu, seenggaknya di jalan aja udah makan waktu lima jam. Belum ngobrol-ngobrolnya, makan siang…Trus kalau macet, bisa lebih lama lagi. Kan mending Tami pake blajar aja.”

Ya sudah, belajar yang baik ya biar IPK mu smester ini naik. Kalau mau makan, tinggal ngangetin yang ada di kulkas.” Ibu mengalah.

*

Sudah lebih dari satu jam perjalanan, namun kami belum juga sampai di gerbang tol Pasteur.

Ya ampuuun, macetnya panjang amat sih, Yah?” keluh Ibu.

Bel, coba turun dulu, tolong beliin rokok di kios itu tuhh.” Ayah nampaknya mulai senewen. Merokok tak biasanya beliau lakukan jika tak ada apa-apa.

Sekembalinya dari kios rokok pinggir jalan, “Yah, katanya Cipularang longsor lagi.”

Oya??”

Iya, tadi aku denger supir bis ngobrol di kios rokok itu.”

Trus, mesti lewat Puncak dong?”

Supir itu bisnya mau dibelokin ke Sukabumi katanya.”

Aduuhhh, lama dong Yah?” ibu mulai panik.

Ayah mulai menyalakan rokoknya. Setelah beberapa hisapan,

Kita balik lagi aja deh, Bu. Minggu depan aja kita jenguk Wien. Pasti nggak lama lah perbaikannya. Lagian kalo minggu depan mungkin Tami bisa ikut. Jadi lengkap, kan?” ayah mengusulkan.

Ibu mengangguk. Aku sih setuju-setuju aja.

Perjalanan kembali ke rumah juga nggak begitu lancar. Menjelang siang di hari minggu, Bandung selalu macet. Tapi mending lah, daripada macet-macetan di jalan Pasteur yang gersang itu…

Itu mobil Ariyo kan, Bu?” setibanya kami di rumah, di garasi sudah ada mobil sedan biru milik Mas Ariyo-pacar Kak Tami.

Yaa, mungkin nemenin Tami belajar.” Ujar ibu sambil melepaskan seat belt. Ayah pun parkir di depan rumah.

Bel, tolong bantu bawa barang ya. Itu, kamu angkut kado buat Tante Wien aja. Biar ayah yang bawa tas pakaian.”

Siap bos!” ujarku semangat.

TAMI!!!! APA-APAAN KAMUUU?!?!” terdengar teriakan ibu dari dalam rumah. Aku dan ayah yang masih sibuk mengangkuti barang serta-merta berlari ke dalam rumah.

Di ruang tengah kami mendapati tiga sosok yang mematung. Ibu dengan tatapan kosong terduduk lemas di sofa. Selanjutnya Kak Tami dan Mas Ariyo yang masing-masing tubuhnya hanya ditutupi oleh bantal sofa dan taplak. Di karpet, berserakan pakaian mereka berdua.

Ayah menghardik keduanya, menampar Mas Ariyo. Ibu terisak. Aku menghampiri ibu, memeluknya. Merasakan air mata yang membasahi dadaku. Sempat pula memandang Kak Tami yang sorot matanya seolah meminta perlindunganku.

Bella…” ujar ibu di sela tangisnya.

Ssstt, udah ya Bu…Tenang. Aku ambilin minum ya?” tawarku.

Nggak usssahh…Bel, mma..maafkan Ibu yyaa…Sselama inni ibu sela..lu nyuruh ka..kamu biar mencontoh kakakmu…Ttapi, ka..kali ini jjangan tiru dia. Jjjanji ssama ibu ya, Bel?”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku bukan Kak Tami, Bu. Dan selamanya nggak bakalan bisa jadi seperti Kak Tami. Semoga kali ini ibu memahaminya.

5 Hal Tentang Perempuan

Thursday, March 22nd, 2007

Pritha Khalida

 

Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya. Apapun alasannya, bagiku kelimanya tak pantas dilakukan oleh perempuan baik-baik. Dan kurasa, puluhan tahun yang lalu saat R.A Kartini mati-matian memperjuangkan emansipasi perempuan, kelima hal tersebut tentu tak ada dalam agendanya. Aku yakin itu.

 

Jen, maaf aku ga bsa nmenin kmu ntn teater, ga enak bdn nih.

Jgn ngambk ya, babe…

 

Hmmh…Damar sakit. Pasti gara-gara kebanyakan lembur beberapa hari ini. Kenapa sih laki-laki begitu tergila-gila sama yang namanya pekerjaan? Bram-sahabatku bilang, penyebabnya bisa jadi tiga hal berikut: 1) karena ada yang ingin dibuktikannya, 2) dia nggak punya kegiatan lain yang menyenangkan selain pekerjaannya, dan 3) emang dia cinta mati sama itu kerjaan.

Sepertinya Damar-ku mengusung alasan yang pertama. Ia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa menjadi seorang music director bukanlah hal yang buruk. Karena di mata sang ayah yang pengusaha, berbisnis adalah pekerjaan seorang lelaki sejati. Berusaha dari bawah, mengalami segala kesulitan-dan mengatasinya dengan tegar, hingga akhirnya mampu berdiri dengan bangga di bawah bendera usaha yang dirintisnya. Seorang ayah yang akhirnya mengusir anaknya saat sang anak tak mampu memenuhi permintaannya untuk meneruskan bisnis batik milik keluarga, dan lebih memilih untuk menjadi music director di sebuah radio lokal.

Baiklah, tanpa Damar tidak berarti acara nontonku berantakan. Tidak ada salahnya juga nonton sendiri, kan? Malah lebih asyik, karena nggak ada yang ganggu untuk mendiskusikannya. Aku pun segera menenteng tas tangan yang sedari sore tadi sudah kusiapkan di atas sofa.

Pelataran parkir kampus yang terletak di sisi utara Bandung ini agak lengang. Hmmmm…kuhirup dalam-dalam partikel-pertikel udara yang beterbangan di sekelilingku. Aroma dedaunan basah terasa menenangkan. Kurapatkan jaket, dan kudekap tas tangan yang hanya berisi dompet dan ponsel itu di dadaku.

Memandangi deretan gedung megah di sekelilingku, menimbulkan sensasi tersendiri. Sensasi yang ditimbulkan oleh kenangan-kenangan lama yang tiba-tiba saja berebut, menyeruak di satu bagian dalam ingatanku. Kenangan yang terbentuk beberapa tahun yang lalu, saat aku masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di kampus ini.

Aku berjalan pelan menelusuri sebuah lorong, menuju gedung teater, tempat pertunjukan akan digelar. Sempat terlihat olehku sebuah ruangan luas dengan tulisan ‘Unit Seni’ di pintunya. Sebaris senyum kecil tak mampu kutahan. Di sinilah dulu sering kuhabiskan waktuku. Untuk apa saja. Jika aku sedang ingin mengambil jatah absenku yang 25 % karena bosan melihat muka dosen, ingin memakai fasilitas internet gratis untuk mencari bahan skripsi, sampai uhmm…curi-curi untuk berduaan dengan pacarku. Mantan pacar tepatnya.

Bingar mulai terdengar dari sebuah aula di sudut barat. Belum banyak pengunjung yang datang. Mungkin aku terlalu awal. Atau, memang tak akan banyak yang datang? Dulu, begitulah keadaannya. Pementasan teater di kampusku tak pernah berhasil mendatangkan pengunjung lebih banyak dari pertunjukan band atau bazaar.

“Kak Jen…”

Aku menoleh.

“Mia!”

Serta-merta gadis itu menempelkan pipinya di pipiku. Adik angkatanku, dua tahun lebih muda.

“Sama siapa, Kak?” ia melongok kanan-kiri.

“Sendiri aja, kok.”

“Masih sama kayak dulu, nggak suka rame-rame.” Ucapnya kenes.

“Bukan nggak suka, sih. Tapi teman-temanku kebanyakan lebih suka nongkrongin big sale di mal. Jadi, yaa begini deh.”

“Oke, ini poster, sinopsis, sama snack-nya. Hope you enjoy the show.” Mia mengangsurkan sebuah tote bag transparan.

“Sampai ketemu ya, Mi!” aku bergegas menuju lift yang sudah hampir penuh.

Pertunjukan malam ini bertajuk ‘Cinta Perempuan’. Mengetengahkan kisah beberapa perempuan dan cintanya. Ada perempuan desa yang dipaksa melacur oleh suaminya, demi mempertahankan posisinya di kantor, lalu ia menurut karena cinta dan pengabdiannya yang demikian besar pada sang suami. Yang kedua, seorang perempuan karir yang hanya cinta pada karirnya, seolah itulah dewa yang akan menyelamatkannya setiap saat. Ada pula seorang janda yang setiap hari harus banting tulang demi menghidupi anaknya. Hingga akhirnya mereka semua bertemu di tempat yang sama. Sebuah ruang remang-remang. Ruangan yang menjanjikan harapan bagi ketiganya. Cinta suami, cinta atasan, dan cinta anak. Cinta yang harus diperjuangkan. Yang menjadi alasan ketiganya tetap bersemangat menyongsong matahari pagi.

Didukung oleh tata lampu yang memukau, properti yang pas, dan tentu saja akting para pemerannya yang baik. Pertunjukan ini menurutku sukses besar. Tidak hanya untuk ukuran kampus.

Bulan separuh menerangi langit malam saat aku keluar dari dalam gedung teater. Tidak hujan, tumben. Padahal beberapa hari yang lalu hujan demikian deras, seperti yang sengaja ditumpahkan dari sebuah ember raksasa di langit.

Masa langsung pulang? Rasanya sayang melewatkan malam cerah ini. Akupun menimbang-nimbang sesaat, sebelum akhirnya kuputuskan untuk mampir ke apartemen Damar, menengoknya. Barangkali sakitnya cukup parah, sampai membatalkan diri untuk menemaniku malam ini.

Dari bawah dapat kulihat bahwa lampu apartemennya masih menyala. Berarti Damar belum tidur. Pas lah kalau begitu. Aku membawakannya krim sup jagung kesukaannya. Semoga bisa membantunya untuk tidur lebih nyenyak malam ini, setelah hari-hari deadline menyusun playlist dan berurusan dengan label yang pastinya melelahkan.

Sempat aku berpikir untuk meneleponnya terlebih dahulu. Mungkin sekedar bilang “Siap-siap yaa, aku datang nih…Sambut dong!” atau sedikit bergurau “Bukakan pintu cepat…Aku bawa air panas!” Hihi, garing. Ya sudahlah, sepertinya lebih seru kalau aku datang mengendap-endap saja. Toh aku punya kunci serep apartemennya. Begitu masuk aku akan berteriak “SURPRIIISE!” Oke, mungkin kata itupun sama garingnya dengan kalimat-kalimatku sebelumnya. Yaa, mau gimana lagi? Aku memang nggak punya sense of humor yang baik.

Pintu apartemen Damar terbuka pelan. Semoga ia tak menyadari kedatanganku sampai jeritan “surprise” ku menggema di sini. Dengan berjingkat aku berjalan seperti maling ke arah kamarnya. Pintunya terbuka. Oke, 1…2…3…

“SURP….riiissss…ssSHIT!!!” kalimat itu meluncur spontan dari bibirku. Jantungku berdegup kencang sekali. Tanganku gemetar. Duhh, betisku perih terkena tumpahan sup krim jagung yang masih panas.

Tuhan tolong lamurkan mataku. Atau buatlah aku rabun senja. Apapun itu, Tuhan. Asalkan aku tak perlu melihat pemandangan di hadapanku saat ini. Tolong ciptakan tembok beton yang kokoh. Kabut yang tebal. Apa saja, Tuhan. Yang penting ada penghalang. Penghalang yang membuatku tak perlu melihat perempuan dengan lingerie hitam, berdada montok, dan berbibir merah cabai itu di bawah tubuh kekasihku. Toloooong Tuhaaaan!!!

Tapi Tuhan tidak mendengar jeritan hatiku. Tuhan mungkin sedang sibuk mengurusi hal lain yang lebih penting. Tapi, ah Tuhan kan Maha Mendengar. Mungkinkah Tuhan sedang berpaling dari ruangan ini karena tak tahan mendengar desah berbaur gelora yang sedang memenuhi sendi-sendi kehidupan di sini? Ahh, pikiranku kalut. Aku pergi saja.

Aku pergi tanpa memedulikan teriakan Damar yang berulangkali menyebut namaku. Teriakan yang lamat-lamat sempat kudengar berujar bahwa ini tak seperti yang kupikirkan. Huh, dipikirnya aku anak SD, yang akan percaya jika dikatakan itu adalah sebuah gladi resik untuk pertunjukan drama di sekolah besok?? Mungkin Damar lupa bahwa aku pernah menjadi anak teater. Dan aku paham betul tak ada gladi resik yang dilakukan berdua saja tanpa para kru yang menonton. Aku amat sangat paham hal itu!

Aku pergi. Tanpa ingin mengatakan apa-apa. Tak penting buatku untuk berdebat meributkan hal seperti ini. Nantinya apa yang akan kudapat? Pertengkaran dengan perempuan itu untuk memperebutkan Damar dengan segala hak yang kumiliki sebagai kekasihnya? Oh tidak! Itu hanya akan mengukuhkan bahwa dia layak diperjuangkan. Dan Damar tak berhak atas itu. Pilihan kedua yang memungkinkan adalah memaki Damar dan setelahnya menangis meraung-raung. Tidak juga akan pernah kulakukan! Perempuan baik-baik kurasa tak akan melakukan hal itu.

Jadi, aku pergi dengan tenang. Tepatnya sikap yang kubuat setenang mungkin, untuk menutupi segala kecewa, perih, dan marah dalam diri ini. Biarlah, tak perlu ada yang tahu.

Setibanya di rumah, kutelungkupkan tubuhku di kasur. Setelah sebelumnya kutelungkupkan frame di atas meja kecil, yang memajang fotoku dengan Damar.

Aku terisak. Awalnya pelan. Namun lama-kelamaan isakan itu membesar. Membentuk lingkaran air mata di bantal putihku. Dadaku terasa sesak. Aku hancur, membentuk kepingan-kepingan.

Mengapa harus begini lagi??

Dan yang terpenting, mengapa harus AKU??

Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya.

Kutarik napas panjang. Sekedar untuk menenangkan diri.

Dulu, ayahku juga begitu. Tergoda oleh perempuan dengan lima hal tersebut, hingga membuat detak jantung ibu pamit mendadak saat mengetahuinya. Itulah alasanku sebenarnya, mengapa aku membenci hal-hal tersebut jika melekat pada perempuan. Perempuan yang menggoda ayah dan menariknya ke peluknya adalah perempuan yang bergincu tebal, berpakaian kurang bahan, dengan asap rokok yang selalu mengepul dari mulutnya. Perempuan yang entah dipenuhi dan memenuhi ayah dengan berapa botol alkohol, hingga terlihat seperti dewi cinta di mata ayah… yang dengan desahnya yang menjijikkan mampu membuat ayah lebih betah di kontrakan murahannya ketimbang di rumah kami yang dibangun ayah dengan keringatnya.

Ibuku mungkin hanya seorang perempuan kampung yang mampu menjadi ibu rumah tangga biasa. Ibu rumah tangga yang memiliki tangan trampil untuk menjahit, memasak, berbenah rumah, dan mengurus anak-anaknya tanpa bantuan babysitter. Ya, seperti itulah gambaran jelas mendiang ibuku.

Ibu yang dengan kesederhanaannya selalu terlihat cantik di mataku dan Jessy. Kecantikan yang timbul karena suara lembutnya, pelukan hangatnya, serta kemampuannya menjadi sahabat bagi anak-anaknya disaat ingin berbagi. Tipikal seorang ibu yang memiliki inner beauty, yang layak dikagumi oleh siapapun di muka bumi ini.

Inner beauty! Tahu kan artinya?? Kata yang seringkali digaungkan di berbagai bacaan perempuan, mulai majalah sampai chicklit. Sering dijadikan tema seminar di hari kartini. Sebuah kalimat yang memiliki makna besar dalam mengiringi pertumbuhanku sejak masa pubertas hingga kini. Kupegang erat di dalam kalbuku. Membuatku selalu ingin menjadi perempuan dengan citra baik. Menjadikannya sebagai sebuah kebanggaan.

Apa kabar inner beauty?? Masih berlakukah?? Atau sudah expired?? Kenapa laki-laki sekarang lebih menyukai perempuan dari fisiknya? Apakah memang dari situ ditetapkan meteran untuk perempuan??

Kakakku Jessy, bernasib tak jauh dari ibu. Suaminya lebih suka menghadiahinya lebam di wajah cantiknya, dan memberikan cium mesranya pada seorang perempuan yang dipungutnya di pinggir jalan. Namun untungnya kakakku bukan perempuan kampung yang lugu seperti ibu. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menggugat cerai suaminya.

Dan aku? Damarku melakukan hal yang sama kini.

Apakah semua lelaki memang begitu? Otak mereka hanya dipenuhi oleh asap rokok, alkohol, bibir bergincu tebal, paha, dada, dan kelamin yang diselingi dengan desah manja?

Huffhh…

 

Sebulan berlalu sejak aku mendapati pengkhianatan kekasihku dengan perempuan berlingerie hitam yang sudah tanggal sebagian itu.

Sewindu sudah ibu meninggalkanku karena perempuan dari rumah kontrakan murahan yang juga memurahkan tubuhnya untuk ayah.

Dan entah berapa lama sejak Jessy memilih tinggal di Australia bersama kedua keponakanku, hanya untuk melupakan mantan suaminya.

Tapi yang jelas, sudah seminggu setiap malamnya aku mampir ke klab ini, untuk memamerkan keindahan tubuhku yang hanya berbalut kain seadanya. Bibirku yang sengaja dipoles menggoda dan mengepulkan asap rokok, menghembuskan aroma alkohol yang begitu kuat. Serta tak lupa desah manja, agar menjadi perempuan terpilih, di antara belasan perempuan lain…untuk dicumbu.

 

Namaku Jeni. Lima hal yang tidak aku sukai dari seorang perempuan adalah merokok, minum minuman beralkohol, berdandan menor, berpakaian minim, serta merayu laki-laki untuk tidur dengannya.

Namun kini, kurasa alasanku sudah lengkap untuk berbalik menyukai kelima hal tersebut.

Please Be Careful With My Heart

Thursday, March 22nd, 2007

If you love me, like you tell me, please be careful with my heart
you can take it, just don’t break it, or my world will fall apart
you are my first romance and i’m willing to take a chance
that ’til life is through i’ll still be loving you
I will be true to you just a promise from you will do
from the very start please be careful with my heart

I love you and you know I do there’ll be no one else for me
promise i’ll be always true for the world and all to see
Love has heard some lies softly spoken
and I have had my heart badly broken
i’ve been burned and i’ve been hurt before

you are my first *and you are my last* romance
and i’m willing to take a chance *i’ve learned from the past*
that ’til life is through i’ll still be loving you
I will be true to you *only to you*
just a promise from you will do
from the very start *from the very start*
from the very start *from the very start*
from the very start please be careful with *my heart*)

love you, sayang….

-ILove u too Honey-

Menggaet Kaum Muda Untuk Berpolitik, Sudah Waktunya?

Wednesday, March 21st, 2007

Ini sebenarnya cerita nyombong p

Jadi gini, ntah gimana awalnya.. gue kenalan ama seorang muda umur 30-an | (Ya, pokoknya kenalan ajah, dalam satu kesempatan..ga usah di jelasin). Nah kita ngobrol banyak tentang macem2. Sebenarnya ni orang lebih cenderung seperti DJ, atau seniman jalanan keren gitu. Tapi rupanya dia adalah salah satu “golongan muda” sebuah partai baru. Iyah.. Partai baru. Ga usah gue sebut partai apa.

Nah, dan akhir nya ada ide buat web (standard gue lah mikir nya project mulu.. huahahah..) . Dan gue bersedia siapin mock up buat web nya ini. Partai baru kan blom ada website, dan lagi mereka sedang gencar2 nya mengejar massa di Pemilu depan. Otak gue maen,…

Heheh.. cucok ternyata. Si Mas muda ini minta gue bikin website anofficial. Artinya web yang bukan web official partai. Lebih cenderung ke website youngster, namun ide2 nya nyampur dengan visi misi partai. Ya ,.. ini lah yang gue sebut mengejar target Kaum Muda. Sepertinya ini partai mau nya kayak gitu. Walaupun Dedengkot mereka adalah pemain lama di politik nusantara, tapi dari si Mas ini gue bisa lihat mereka punya generasi banyakan gini di tubuh angkatan mudanya.

Yah, ga papa… namanya juga berpolitik. Terlepas itu adalah sekedar kepentingan golongan untuk menang pemilu, atau emang sesuai dengan visi misi mereka yang gue anggap bagus kalo emang bener2 nyampe ke “kaki2 lima”.

Tapi satu semangat yang gue lihat di-niat-an mereka. Bahwa, generasi Tua sudah waktunya jadi si-”Tut Wuri Handayani”. Dan Yang muda2 udah waktunya sekarang sadar dan bergerak bersama. Daripada SEKEDAR nongkrong di klubbing atau di depan MTV.

Yah, ntar deh kalo jadi web nya gue share. Kalo ternyata proposal dan mock up ini di tolak, ya kan gue juga malu dah gembar gembor…

…………………Gue ada lirik cucok lagi buat post ini (tetep GNR huehuhe)……………………..

It don’t really matter
You’ll find out for yourself
No it don’t really matter
You’re gonna leave this thing to
Somebody else

If they missionaries
Real time visionaries
Sitting in a Chinese school
To view my dis-infatu-ation
I know that I’m a classic case
Watch my disenchanted face
Blame it on the Falun Gong*
They’ve seen the end and you can’t hold on now

Cause it would take a lot more hate than you
To stop the fascination
Even with an iron fist
Our baby got to rule the nation
But all I got is precious time

It don’t really matter
You’re gonna find out for yourself
No it don’t really matter
So you can hear now from
Somebody else

Cause it would take a lot more time than you
I’ve got more masturbation
Even with your iron fist
More than you got to rule the nation
But all I got is precious time
More than you got to rule the nation
But all I got is precious time

It don’t really matter
Gonna keep it to myself
No it don’t really matter
So you can hear it now from
Somebody else

You think you got it all locked up inside
And if you beat them all up they’ll die
Then you’ll walk them home for the cells
Then now you’ll dig for your road back to hell
And with your ???? makes you stop
As if your eyes were their eyes you can tell
In your lack of time

Chinesse Democracy, 2002 - 2006

Related Posts
  • Politik
    Secara naluriah, manusia akan selalu berpolitik. Sudah merupakan aturan main yang mungkin sudah berasal dari sono-nya. Seorang anak kecil juga bisa berpolitik untuk mendapatkan uang jajan. Seorang murid berpolitik terhadap guru-gurunya. Seorang pedagang juga berpoliti...
  • Antara Vodka, Nasionalisme dan Cinta
    Apa yang unik malam ini? Tidak ada! Gue cuman berteman sekelompok "tua-tua", kaum tua yang akan berangkat menuju medan pertempuran masing-masing nantinya. Ada yang akan studi lanjutan keluar negeri, ada yang mau bekerja di perusahaan asing, dan bahkan ada yang mau D...
  • Mari Coblos
    Sudah 2 hari ini riuh ramai tentang Pemilu Ketua Ikatan Alumni Kampus GT™. Ramai sampai masuk Detik segala. Konsolidasi menggila dari para tim sukses kandidiat digelar di kawasan Jakarta-Bandung. Paling tidak itu kabar yang saya terima dari teman-teman di Bandung. B...
  • Presiden Penyair
    Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama Jimmy Carter dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya dukungan Jimmy Carter terhadap Obama. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan "berandai-andai" bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adala...
  • Anggaran Menye-Menye
    Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita? Dan beberapa hari lalu, kembali jatah ang...

Pinter Juga si Hackernya.. Salah Nangkep Gue

Sunday, March 18th, 2007

Ternyata ga seperti yang di duga. Web presiden di hack lewat kelemahan di DNS manager.

Seperti yang gw tulis sebelumnya,..memang lewat sebuah frame set, namun ternyata file “Deface” tersebut juga bukan berada di server SBYdotINFO. Melainkan di server lain.

Ya, gue kagak tahu server nya SBY dimana dan berapa IP-nya p kagak ngurus. Tahunya memang IP resolve ketika di HAck tadi pagi adalah kepala 67-an gitu. Server US di Theplanet.

Jadi kemungkinan sih, si Hacker sendiri naruh FIle HTML nya di server USA itu (IP-67-an) . Dipanggil dengan redirect DOMAIN SBYdotINFO ke IP 67-an itu. Nah, sedang isi file HTML itu sendiri berisi Framse tag yang memanggil file http://www.luthermusic.com/TuntutanRakyat.html.

Keren juga nih tukang Deface. Bisa ngelihat kelemahan di DNS manger nya SBYdotINFO.

Tapi tuntutannya itu.. Mbok ya mending harga beras yang diturunin… kalo IGOS ditingkatkan gw setujuh2 aja. Apalagi IGO BB17 Kaskus kalo terus digalakkan..huekekeke….SETUBUUHHH bangeett… D

Related Posts
  • Hari Ke-5,.. Ndak gitu Penting Sih
    Hari ke-5 ... Ngga gitu banyak hal penting yang gue kejar di kampus hari ini. Karena surat lulus seleksi udah di tangan dan gue lebih berminat jalan2 ngiderin kawasan sekitar kampus. Dan karena ini hari terakhir buat pendaftaran ulang bagi mahasiswa lama, maka gue me...
  • Resume. Ya,… Ini Cuman Resume Kegiatan
    Seminggu belakangan ini, selama gue ga nge-blog ada beberapa kisah menarik. Ya,.. bisa dikata lumayan menarik. Karena gue lagi malas ngetik2, jadi gue rangkum dalam satu tulisan ajah .. hahaha... Dimulai dari bertemu puti , si ibu guru ini "kembali" mengajak gue untu...
  • SAPU JAGAT ala OTORITER!!
    Postingan ini adalah makian saja kepada DEPKOMINFO dan kroni-kroninya! Beberapa ISP, termasuk ISP salah satu warnet depan kost saya, ternyata memblok BLOG ini. Saya coba ekspansi ke beberapa warnet terdekat juga sama. Tetapi ada yang masih bisa mengakses, dari beberapa...
  • Karena Tidak Tahu Mau Post Apa,..
    Gue ga tahu mau post apa nih. :( Sekarang juga sedang numpang di laptop Ijah dan gue oprek2 folder2nya dia ..hihihi... Ga sopan??? Iya, gue tahu. Tapi gue ngerti folder2 mana yang boleh dan tidak. Dan gue rasa banyak diantara kita kalo udah berhadapan ama PC - Lapt...
  • Sekedar Curhat Tanpa Judul.
    Mungkin diantara rekan2 blogger ada yang punya adik kandung laki-laki/perempuan. Tahu bagaimana melihat hubungan saudara diantara kalian? Apakah rasa hormat? segan? sayang? atau lain2 yang sejenis. Hmm..well, entahlah kalau saya. Entah rasa apa yang muncul terhadap adik...

SBY dititip pesen ama Hacker lewat FRAME SET :p

Sunday, March 18th, 2007

Hehahah…

Ini cuman tulisan populis,… Kalo gue udah ada di depan komputer, gue taruh link umbaran si Mister Roy dulu tentang tangguhnya server http://www.presidensby.info/ .

Sementara kita tunggu perkembangan lanjutan dari teknisi web kepresidenan. Sejak jam tujuh pagi tadi gue denger dan ampe sekarang gue cek (09.41 AM WIB) , situs dot info ini masih memajang pesan TRITURA Version 2.0 huahahah….

Ini isinya:

Kepada Yth. Indonesia, 17 Maret 2007
Presiden Republik Indonesia
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Di
Istana Negara

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami,
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama: on behalf of underground community
Alamat: the world where the devils gather
Nick: Qwerty

Dengan ini mewakili komunitas underground Indonesia ingin menyampaikan beberapa permintaan:
1. Turunkan harga Bandwith agar kita semua bisa merasakan internet, apa Anda tidak malu dengan China atau India?
Mereka negara berpenduduk padat yang bisa mengakomodasi kebutuhan bandwidth dengan baik
2. Dukung dan laksanakan IGOS (Indonesia Go Open Source), pikirkan masa depan bangsa ini, tingkatkan mutu pendidikan,
masa depan kita terletak di pundak mereka yang dengan jari-jari mungilnya setiap pagi mengemis dan mengamen di jalanan
3. Berantas KKN, pornografi dan pornoaksi di negeri kita tercinta ini.
Saya kira Anda telah menyaksikan bagaimana azab yang telah menimpa bangsa ini. Tsunami, Gempa Bumi, Banjir,
dan Kecelakaan baik di udara, laut maupun darat yang telah merenggut anak dari ibunya,
yang telah memisahkan adik dari kakaknya. Kurang apalagi? Tanah Longsor? Lumpur Sidoarjo?
Mungkin sebentar lagi bencana yang akan lebih besar lagi. Tidakkah kita malu terhadap Tuhan?
Sudah diperingatkan berulang kali tetap saja membangkang dan tidak ingat kepada-Nya.

Agar permintaan kami ini diperhatikan dan dilaksanakan. Karena pemimpin yang baik pasti mendengarkan suara rakyatnya.
Terima kasih.

Hormat Kami,

Qwerty

Tulisan tersebut di di call secara biasa aja dengan frameset. HTML aslinya berada di situs http://www.luthermusic.com/TuntutanRakyat.html

Time is ticking,.. dan berapa lama bakal majang ni Frame di situs SBY p ( REndy malah dah denger dari jam 4 pagi tadi..bujug tuh anak , ga pernah kelewat dia kalo urusan ginian… :nohope)

Related Posts
  • Pinter Juga si Hackernya.. Salah Nangkep Gue
    Ternyata ga seperti yang di duga. Web presiden di hack lewat kelemahan di DNS manager. Seperti yang gw tulis sebelumnya,..memang lewat sebuah frame set, namun ternyata file "Deface" tersebut juga bukan berada di server SBYdotINFO. Melainkan di server lain. Ya, gue...
  • Mendadak Pada Jadi Sastrawan/wati
    Entah apa yang bikin orang2 tiba2 menjadi puitis di hari lebaran.   Sejak malam Jumat, HP gue ga berhenti kemasukan SMS tat tit tut dari temen2 yang mo ngucapin met lebaran. Uniknya dan emang setiap tahun berlebaran - dari sejak gue kenal HP, sms yang masuk sel...
  • 3 Hari
    It’s been so long Since I’ve known right from wrong Got no job, sometimes I just sit down and sob Wondering if anything will go right Or will you dance with me tonight Sudah lebih 6 bulan. Cuma melurusi apa yang ada dalam pikiran-pikiran gue. Ada r...
  • Deception Point -Dan Brown ke-2 Yang Gue Baca
    Sebenarnya gue ga niat membaca buku ini. Karena memang pada dasarnya gue ga gitu suka novel thriller. Tetapi karena beberapa hari kemarin ga ada buku yang bisa dibaca, dan kebetulan buku ini nganggur di Persma, makanya gue mulai membaca. Dan standar novel nya Dan Brown,...
  • Menara Gading “The End”(Part Two)
    Kita lanjutkan lagi cerita Menara Gading. Dan sepertinya saya perpendek saja cerita ini. Pendek dalam versi saya tentunya. Saya tumpahkan saja semua di postingan ini buat yang nagih cerita di Bandung ditulis segera. Dan saya pun kemudian bisa kembali menulis "lucu-luc...

Now.. Stories Begin

Friday, March 16th, 2007

Tahu ngga apa yang bikinhidup itu kerasa sangat HAMPA. Mungkin rasanya beragam-ragam buat setiap orang. Tapi buat gw, saat paling hampa itu adalah saat ini… ya saat dimana aku ngga tahu MAU BAGAIMANA.Bukan karena wanita. Gw ga ngerasa kehadiran wanita penting dan menjadi penyembuh dalam ke-HAMPA-an gue. Banyak wanita lalu lalang di bulan2 belakang ini, ga ada efek penyembuhnya. Selain HBW gue doang yang tersembuhkan. (Catet yee: HBW di gue tu = Haus Buaian Wanita. Bukan Belaian!!. I’m not a kind of man like that ) )

Bukan juga karena kurang duit, karena “secara” gue malah surplus diitung dari kebutuhan bulanan (alhamdulillah…). No women, no money , thats not what i’m thinking right now. But i feel so Lonely and tired.

Gue harus liburan, atau ambil suasana baru. Kepindahan ke Jogja harus dipercepat. Dan segudang urusan tetek bengek dengan Kampus ini harus gue selesaikan. Please LOrd, nothing i want right now beside PEACE in my heart/head.

————-

Curhat ga mutu menjelang Pagi, blm mandi dan sikat gigi.

Related Posts
  • No related posts

Seni Cetak Digital 2007

Tuesday, March 6th, 2007

Pada semester ini materi lebih dititikberatkan pada bagaimana mengolah ide dan gagasan dari tema yang telah ditentukan dan menuangkannya dengan teknik digital (bebas menggunakan software apa saja). Keluaran atau karya yang dihasilkan harus berupa karya cetak, mengacu pada konvensi seni grafis. Untuk tugas pertama tema yang harus dikerjakan adalah “Buro Destruct”. Tugas kedua (UTS) bertema “Mandala”.

Dosen:

  1. Deden Hendan Durahman
  2. Widianto Nugroho